SURABAYA – Naiknya tarif Surat Muatan Udara (SMU) beberapa hari lalu tidak hanya berpengaruh pada Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo). Tak terkecuali bagi Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia Jawa Timur (ALFI Jatim) juga turut merasakan dampaknya.
Bahkan banyak pengusaha, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi korban, lantaran pengiriman produk ke konsumen memanfaatkan jasa angkutan udara.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum DPW ALFI Jatim Ima Sumaryani menyebutkan, kenaikan SMU memukul produktivitas kargo domestik. Pihaknya mencatatkan, pada Januari 2019 kemarin terdapat penurunan untuk produksi kargo domestik (datang dan keluar Jatim) sebesar 18 persen dibanding Desember 2018. “Penurunan terasa paling banyak untuk barang yang datang dari luar Surabaya, yakni mencapai 30 persen,” terangnya di Surabaya.
Sedangkan untuk logistik yang keluar dari Bandara Juanda menurun 12 persen. Ima menuturkan, Jakarta masih mendominasi sebagai kota tujuan logistik yang keluar dari Bandara Juanda.
Jakarta masih mendominasi tujuan pengiriman logistik dengan persentase 60 persen, disusul pengiriman dari Batam, Bandung, dan Balikpapan. “Padahal sepanjang tahun 2018, rata-rata outgoing per bulan sebesar 4.000 ton dan incoming 2.500 ton,” paparnya.
Menurut Ima, secara keseluruhan sepanjang tahun 2018 dibanding 2017, pengiriman logistik dan forwarder masih bagus. Meskipun tidak banyak, tapi masih mampu tumbuh hingga 9 peren.
Pihaknya berharap, kenaikan tarif SMU bisa ditinjau ulang, agar kegiatan pengiriman kargo domestik udara kembali normal. Menurutnya, pihaknya sudah menerima penjelasan bahwa kenaikan SMU dipicu biaya-biaya yang semuanya mengalami kenaikan.
Seperti bahan bakar pesawat, avtur yang sudah mengalami kenaikan hingga 40 persen sejak Desember 2018 hingga Januari 2019, dolar AS yang naik hingga 23 persen, dan biaya lainnya naik 65 persen yang dibayar menggunakan dolar.
“Meski demikian, kami tetap berharap hal-hal tersebut dapat ditinjau ulang dan anggota ALFI tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” imbuhnya.
Sementara menurut Ima, sebetulnya pengiriman barang ke luar Jawa volumenya relatif kecil. “Tetapi memerlukan service melalui udara,” ujarnya.
Berbeda dengan wilayah Jawa, jika tarif udara kurang terjangkau, maka untuk pengiriman wilayah Jawa bisa menggunakan alternatif lewat jalur darat, baik kereta api atau truk. (cin/nur)
Editor : Administrator