SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatatkan pada bulan Oktober 2018, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,19 persen.
Kepala BPS Jatim Teguh Pramono mengatakan, berdasarkan pemantauan terhadap perubahan harga selama Oktober 2018 di delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur menunjukkan adanya kenaikan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau.
"Hal ini mendorong terjadi kenaikan IHK sebesar 0,19 persen yaitu dari 132,41 pada bulan September 2018 menjadi 132,65 pada bulan ini," terangnya di Surabaya, Kamis (01/11).
Teguh menuturkan, seluruh kota IHK-nya mengalami inflasi, sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Kota Malang dan Sumenep yang mencapai 0,30 persen. Sementara, inflasi terendah terjadi di Banyuwangi yaitu sebesar 0,09 persen.
Adapun komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Jawa Timur pada Oktober 2018 ialah bensin, emas perhiasan, dan cabai merah. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang terhitung sejak tanggal 10 Oktober 2018, pemerintah resmi melakukan penyesuaian harga jual BBM jenis pertamax series. Yakni, pertamax dan pertamax turbo, dex series yakni pertamina dex dan dexlite, serta bio solar non subsidi.
"Hal ini membuat komoditas bensin menjadi pendorong utama terjadinya inflasi Oktober 2018. Harga cabai merah pada Oktober 2018 juga mengalami kenaikan akibat tingginya permintaan sementara pasokan cabai merah tidak cukup untuk memenuhi permintaan di pasar," imbuhnya.
Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi di atas, komoditas lain yang juga mendorong terjadinya inflasi bulan Oktober, yakni daging ayam ras, tahu mentah, kontrak rumah, cat tembok, rokok kretek filter, sewa rumah, dan besi beton. (cin/jay)