Pemerintah terus mendorong koperasi memiliki anak usaha yang mampu masuk ke bursa atau pasar modal. Koperasi sebagai badan hukum bisa memiliki anak usaha yang dikembangkan hingga kemudian terdaftar sebagai emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pihaknya berharap anak usaha koperasi akan makin berkembang sekaligus memperbaiki tata kelola perusahaan melalui GCG (good corporate governance).
Kepala Dinas Perdagangan Jawa Timur, Muhammad Ardi mengatakan beberapa perusahaan di Jatim seperti Kospin Jasa melalui anak perusahaannya PT Asuransi Jiwa Syariah Mitra Jaya Abadi tbk pada 2017 lalu sudah bermain di bursa saham. “Era emiten di dunia bursa saham akan terus meroket, makanya kami mendorong perusahaan besar bisa ekspansi ke bursa efek,” kata Ardi.
Beberapa saham lainnya misalnya Kisel yang dijual Rp140 per lembar saham, langsung meroket jadi Rp 300 per saham saat listing. Dalam prestasinya selama ini sudah layak untuk mempunyai anak usaha yang bisa melepas sahamnya ke bursa apalagi KISEL juga telah memiliki sejumlah anak perusahaan yang bergerak di berbagai lini usaha. “Koperasi menjadi wadah yang tepat sebagai sarana untuk kesejahteraan,” jelasnya.
Kepala Pusat Informasi Go Public PT Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur, Dewi Sriana Rihantyasari mengatakan untuk meningkatkan jumlah IPO di Jatim, pihaknya sudah menggandeng berbagai investor baik perorangan maupun perusahaan. “Untuk koperasi terus kami dekati, karena sistem bursa efek itu sebenarnya mirip dengan koperasi. Saham dari perorangan dengan jumlah sesuai kemampuanya, hasilnya maka dibagikan kepada pemegang saham,” kata Dewi.
Di Gresik, kata dia, kegiatan melakukan edukasi kepada seluruh masyarakat agar melek investasi dan segera menjadi investor di pasar modal. Selain itu, untuk meningkatkan aktivitas investasi investor, BEI memberi dukungan penuh kepada Anggota Bursa untuk memperbanyak kelas edukasi bagi investor pemula agar semakin paham dengan cara-cara berinvestasi sehingga dapat menimbulkan keyakinan dalam mengambil keputusan investasi.
Berdasarkan survei literasi dan inklusi keuangan yang dilaksanakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2016, indeks literasi keuangan Jawa Timur sebesar 35,58 persen, atau lebih tinggi dibanding indeks literasi keuangan Indonesia yaitu 29,66 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan Jawa Timur pada 2016 mencapai 73,25 persen atau lebih tinggi apabila dibandingkan dengan indeks inklusi keuangan Indonesia yaitu 67,82 persen. (han/ris)
Editor : Administrator