SURABAYA – Pada musin durian seperti ini wajar jika banyak dijumpai penjual buah durian. Belasan penjual durian nampak berjajar di Jalan Raya Arjuno Surabaya sisi Utara. Siapa sangka mereka adalah mantan pedagang buah di Pasar Widodaren yang tergusur pada Agustus 2017 lalu.
Para pedagang buah ini terpaksa harus kucing-kucingan menjajakan buah beraroma khas itu lantaran tidak memiliki tempat yang menetap. Sementara pekerjaan itu menjadi mata pencaharian utama mereka. Bahkan Sodiq, 47, salah satu penjual harus keluar modal besar untuk beli motor boks supaya bisa berjualan.
Meski sudah keluar modal yang lumayan banyak, namun penghasilan harian berjualan di pinggir Jalan Arjuno itu tidak semanis ketika masih memiliki lapak di Pasar Widodaren. ”Jual di sini sehari laku 30 sampai 50 buah, kalau dulu di Pasar Widodaren sehari bisa laku terjual 100 buah,” terang Iskandar, 28, penjual lain di jalan itu.
Lalu, Iskandar juga menyampaikan jika berjualan di pinggir jalan raya itu, yang paling banyak dibeli adalah jenis durian yang kecil-kecil. Sementara jenis yang lebih besar seperti durian montong jarang dibeli lantaran harga yang lebih mahal. Ia hanya bisa berharap bisa memiliki lapak dan berjualan lagi bersama pedagang lain dalam satu pasar.
Para pedagang durian ini berjualan mulai pagi pukul 10.00 hingga pukul 21.00. Di tempat itu ada sekitar 15 pedagang buah durian yang menjajakan beraneka ragam jenis durian di atas gerobak motor dan mobil. Durian yang dijual mulai dari jenis manalagi, montong, bankok, dan petruk. Harga masing- masing durian juga bervariasi tergantung jenis dan ukuran buah berkulit duri tersebut. Mulai harga Rp 10 ribu hingga Rp 75 ribu per buahnya.(son/no)
Editor : Administrator