Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Iklan Berjalan, Bebas Pajak, Lebih Efektif

Administrator • Minggu, 15 Oktober 2017 | 03:29 WIB
Iklan Berjalan, Bebas Pajak, Lebih Efektif
Iklan Berjalan, Bebas Pajak, Lebih Efektif

Ada yang menyebut car advertising, tapi banyak pula yang menamainya iklan berjalan. Dikatakan berjalan karena iklannya bisa ‘berjalan’ ke mana-mana.  Maklum, iklan itu ditempelkan di bodi mobil atau ditaruh di belakang motor. Iklan jenis ini saat sekarang sedang marak di kota besar, termasuk di Surabaya.


Umi Hany Akasah-Wartawan Radar Surabaya


Tren car advertising di Indonesia, khususnya di Surabaya, sebenarnya sudah ada sejak 10-15 tahun lalu. Mulanya, pemasang iklan melakukan branding lewat kendaraan atau angkutan umum. Namun, sejak tahun 2015, car advertising ini mulai menyentuh kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. 


Iklan berjalan bermula pada awal tahun 2015 dengan munculnya sebuah startup bernama Wrapify di Amerika Serikat. Mereka mengajak para pemilik mobil maupun pengemudi menjadikan bodi kendaraannya media iklan. Di Indonesia, iklan jenis ini terus booming hingga sekarang.  Bahkan, kini tidak segan para pemilik kendaraan, terutama mereka pekerja online untuk mem-branding kendaraannya. Teknisnya yakni mengajak pengemudi atau pemilik mobil untuk menjadikan bodi kendaraannya sebagai media iklan. Dengan cara itu para pemilik kendaraan akan mendapatkan komisi dari pemasangan iklan.


Pengemudi Grab Online, Agus Wiuntung mengatakan, ia rela melakukan branding mobilnya karena tergiur dengan komisi yang diberikan oleh perusahaan.


"Kebetulan produk online juga yang menawarkan branding produknya. Saya dapatnya dari manajemen Grab," kata Agus kepada Radar Surabaya, Sabtu (14/10).


Sejak awal tahun Agus mem-branding mobilnya dengan iklan berjalan. Hingga sekarang, ia terus memperpanjang branding di mobilnya karena cukup besar penghasilan yang ia dapat. “Lumayan bisa buat tambahan penghasilan,” lanjutnya.


Dikatakan Agus, pembagian komisi dihitung berdasarkan jarak tempuh dan juga kesepakatan berapa maksimal kilometer yang bisa ditempuh oleh pemilik mobil.


Menurut Agus, untuk awal kerjasama, ia dihubungi oleh manajemen mitra kerja yang sedang ia ikuti sekarang.  "Batasan maksimum kilometer disepakati bersama dengan pengiklan, seperti 1.000 sampai dengan 2.500 kilometer. Komisinya bisa 30 sampai 40 persen," jelasnya.


Untuk mobilnya sendiri, Agus menyatakan mendapatkan komisi sebesar Rp 1,5 juta tiap tiga bulan. Biasanya komisi dibayar tiga bulanan. Bagi Agus, sebagai pengemudi online ia sangat diuntungkan dengan kerjasama branding iklan di mobilnya. "Saya nyicil mobil, jadi lumayan untuk bayar cicilan. Apalagi, kalau kendaraan kita bisa lebih dari 5.000 kilometer per bulan. Maka kerjasama pun berlanjut. Bisa sampai cicilan lunas, kita bisa manfaatkan pembayaran cicilan dari komisi branding," papar dia.

Editor : Administrator