Senin, 20 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Penggratisan Tol Pandaan-Malang untuk Marketing

14 Mei 2019, 14: 51: 29 WIB | editor : Wijayanto

Kresnayana Yahya

Kresnayana Yahya (ISTIMEWA/YOUTUBE)

SURABAYA - Pakar Statistika dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Kresnayana Yahya mengungkapkan, penggratisan tarif jalan tol Pandaan-Malang selama hampir satu bulan belum tentu merugikan karena adanya pendapatan yang hilang.

Menurut dia, pemerintah justru memberi kesempatan kepada masyarakat untuk mencoba. “Tahu-tahu dia merasakan Pandaan-Malang itu cuma 30 menit, kira-kira setelah jalan itu tidak gratis lagi, dia akan kembali melewati jalan biasa atau jalan tol? Jelas jalan tol karena lebih cepat,” ungkap Kresnayana.

Kresnayana menjelaskan, hal ini berarti membangun kebiasaan terutama untuk mereka yang ada keperluan bisnis sehingga memerlukan keluar masuk tol tersebut. Selain itu, bagi mereka yang memiliki keperluan wisata atau sosial akan menjadi terbiasa.

“Misalnya, kalau dari Surabaya akan dihitung bayarnya Rp 22.500 sampai Pandaan. Tetapi Pandaan-Malang gratis dan setengah jam sudah sampai. Mereka akan memilih untuk lewat jalan tol ini meskipun nanti sudah ditetapkan tarifnya,” tuturnya.

Selain itu, bagi pengendara masa percobaan satu bulan ini juga dapat dijadikan sebagai latihan untuk mengenali lika-liku medan jalan tol tersebut. “Lebih pada pengenalan medan jalan tol itu sendiri. Apalagi misalnya dari 30.000 kendaraan yang melewati jalan tol ini setiap harinya, 10.000 merupakan kendaraan bisnis yang mengangkut barang, orang, bus ataupun pariwisata maka ini akan menjadi insentif untuk memarketingkan jalan tol ini,” jelasnya.

Apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini, lanjutnya, masyarakat yang belum pernah melewati jalan tersebut akan mendapat cerita dari berbagai media sosial saat ini, itu akan menjadi kampanye yang luar biasa.

“Nah, kalau dalam sebulan sudah diberi kesempatan pengenalan pada jalan tol ini, maka akan menjadi luar biasa efeknya nanti,” ujarnya.

Kresnayana menegaskan, semua barang baru membutuhkan marketing dan marketing itu sendiri belum tentu sesuatu yang harus murah dan gratis. Tetapi pengenalan atau informasi tentang produk atau layanan tersebut yang tentu akan lebih memudahkan masyarakat maka akan membuat orang yang sebelumnya merasa tidak membutuhkan akan menjadi membutuhkan.

“Bahkan dengan penciptaan infrastruktur ini ternyata mampu meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan produktivitas,” pungkasnya. (cin/rud) 

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia