Senin, 20 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Hobi Minggat dari Rumah, tapi Kalau 'Pingin' Pulang ke Rumah

12 Mei 2019, 02: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Beberapa hari ini ada yang berbeda di Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Surabaya. Kursi ruang tunggu yang sebelumnya diletakkan single memanjang di dua sisi kanan dan kiri, kini ditambah menjadi dua baris. Apakah itu tandanya pihak PA kian memperhatikan fasilitas pelanggannya? Atau ini pertanda semakin banyak pasangan yang bercerai?

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Jika jawabannya yang kedua, maka pasangan labil macam Karin, 45, dan Donwori, 46, ini patut dipersalahkan. Lha bagaimana ya? Dengan mudahnya mereka bermain-main dengan kata cerai. Dipikir hubungan pernikahan itu pacaran ala anak SMA yang ketika marahan selalu minta putus. Hah?

Kemarin siang (10/5), Karin duduk-duduk santai di ruang tunggu PA yang gres itu. Tangannya memegang handphone yang memutarkan lagu-lagu galau Malaysia tahun 90-an yang sempat ngetrend di Indonesia. Lamat-lamat terdengar suara mendayu Zamani Ibrahim, membawakan lagu Gerimis Mengundang. “Sia-sia.. Kukorban selama ini. Jika kasihku, jika hatiku, kau iris, oh ho ho hoo.”

Kala itu, ia sedang menunggu kedatangan seorang pengacara untuk melanjutkan konsultasi, yang entah sudah ke berapa kalinya. Kepada  Radar Surabaya, Karin pun menceritakan urusannya ke pengadilan. Tidak, ia tidak mau menggugat suaminya. Ia hanya memastikan, apakah benar suaminya menceraikannya. “Gak adai, tak tanya bagian informasine. Tapi kok  winginane dekne ngomong lak wis ngirim berkas cerai nak pengadilan,” katanya, singkat.

Kata Karin, Donwori memang tipe suami yang nggapleki polll. Dia memiliki sikap labil layaknya anak ABG. Meski sudah punya tiga anak, ia ngambekan luar biasa. Masalah remeh-temeh pun akan jadi besar kalau dengan Donwori. Sikap ngambekan ini makin sempurna  dengan sikap cemburu dan curiga yang berlebihan.

Masalahnya, kalau sudah ngambek, Donwori suka minggat. Bahkan, Donwori sudah punya kos langganan sebagai jujukan minggatnya.  Minggatnya pun lama. Biasanya tiga hari baru pulang. Itupun kalau sudah Karin ngalahi dan “menjemputnya”. Bedebahnya, kalau sudah dijemput pulang, sikap Donwori akan berubah. Lupa kalau ia pernah ngamuk. Bahkan malamnya, ia selalu mengajak Karin untuk in the hoy. “Ora ndayani ngunu loh, Mbak, pokoke. Angger mulih yo njaluk,” lanjut guru SD ini.

Hal ini juga terjadi beberapa bulan terakhir. Ngambekan Donwori semakin parah. Hal ini dipicu oleh rasa cemburu melihat Karin yang intens chatingan dengan teman laki-lakinya selama kuliah dahulu. Terbakar cemburu, Donwori marah-marah dan menuduh Karin selingkuh. Bahkan, Donwori  tak sungkan mengolok-olok Karin dengan kata-kata menghina macam lonte (maaf, Red).

Tapi ya begitu, setelah dijemput Karin, ngambeknya Donwori reda. Lalu, malamnya minta. Esoknya cemburuannya kambuh, marah-marah lagi, minggat lagi, dijemput lagi, minta dilayani lagi, cemburu lagi.Begitu saja terus.

Siang itu, Karin juga sempat bimbang. Dari konsultasi sebelumnya, ia ditanyai pengacaranya. Apa gak sakit hati dikata-katai pelacur. Kalau memang suaminya kasar begitu, katanya, harus ditegesi. Kalau masih mau bersama, ya harusnya dikurangi kata-kata kasarnya. Kecuali kalau mau berpisah, ya monggo. Namun agaknya Karin sendiri woles. Mungkin masih cinta. “Dekne iku ya ngilokno aku lho, Mbak. Ngomong gilo katene berhubungan badan ambek aku, soale aku pelacur. Tapi asline yo panggah doyan,” kata Karin dengan raut muka yang sedikit bersemu.

Sembari mendengarkan cerita Karin ini, sebenarnya Radar Surabaya hanya membatin dalam hati. “Eealah. Kalau sampeyan diilok-ilokno masih mau kalau diajak begituan, iki asline sampeyan yo sik seneng paling bu.” Tapi pikiran julid itu segera Radar Surabaya tutupi dengan pertanyaan.  “Terus rencananya nanti bagaimana,Bu? Mau cerai atau damai?”

“Gak tahu. Masih bingung, Mbak. Lha mau damai, ya kesel juga. Dia ngilokno aku nok ngarep anak-anak juga. Dia ngomong kalau ibuke anak-anak selingkuh, trus bapak model opo ngono kuwi,” lanjut perempuan asal Mulyorejo ini bimbang.  Ealah embuh, Bu Karin. Pun mboten melu-melu. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia