Senin, 20 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Senang Buatnya, Emoh Ngurusnya

11 Mei 2019, 02: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Hak asuh anak adalah masalah kedua yang sering diperebutkan pasangan bercerai, setelah harta gono-gini. Namun, lain halnya dengan pasangan Karin, 27, dan Donwori, 34, ini. Yang malah gontok-gontokan karena emoh ngemong anak.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

"Aku wis ngeramut sampek areke sakmunu gedene. Dipikir gampang. Nandi ae bapake," gerutu Karin di kantor pengacara, dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin (9/5). Ya, Karin memang memiliki satu anak buah cintanya dengan Donwori. Anak semata wayangnya ini sudah kelas satu SD. 

Untuk menghidupi anaknya ini, Karin bekerja mati-matian. Ia ikut tetangga untuk menjaga warung, siang dan malam, demi anak bisa makan. Karin terpaksa bekerja karena tak bisa mengandalkan Donwori yang pamitnya merantau bekerja, tapi tak pulang-pulang. "Awale yo soro, Mbak. Ancene gak nduwe pengalaman (kerjo). Akhire sak keneke. Sing penting anak wareg," jelasnya. 

Kata Karin, Donwori pamit merantau saat anaknya baru saja lahir. Katanya dulu, Donwori ingin memberi penghidupan yang layak pada sang anak. Di awal-awal tahun sih Donwori membuktikan omongannya. Namun, tahun berikutnya, Donwori menghilang. Blas tiada kabar. Benar-benar jadi Bang Thoyib. Usut punya usut, Donwori punya mbok enom di perantauan. 

Dan rupanya benar. Setelah lima tahun tak ada kabar, Donwori pulang ke rumah. Tapi, jangan harap mau bertanggung jawab dan menjadi bapak yang baik. Datang-datang, Donwori malah mengajak Karin cerai karena sudah memiliki keluarga baru di perantauan. 

Ajakan bercerai dadakan itu sama sekali tak membuat Karin sakit hati. Ia woles saja. Baginya, waktu lima tahun sudah cukup untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Donwori adalah seorang pengkhianat yang tak patut ditunggu cintanya. Hatinya sudah keras, diterpa tanggung jawab untuk menghidupi anak. 

"Aku ngomong, lek kate njaluk pisah monggo mawon. Tapi tulung situk wae. Ramuten anakku, aku wes gak kuat," katanya, mengulang apa yang ia sampaikan kepada Donwori. 

Karin sendiri membela diri. Bukannya ia tak mau menghidupi anaknya. Namun, ia takut, kalau tinggal bersama Karin, hidup anak semata wayangnya ini tak sejahtera. Biarlah dia jadi tanggung jawab bapaknya yang lebih sukses, pikirnya. 

Namun kok ya bedebah Donwori itu. Dititipi anak satu saja dia tak mau membawa. Katanya, biarlah Karin saja yang membesarkan. Donwori akan tetap bertanggung jawab dengan mengirim uang bulanan. "Halaah. Cangkeman tok. Selama ini wae gak pernah ngirimi duwet. Atek gaya arep ngirimi. Gak mungkin," tukas Karin makin sebal.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia