Minggu, 19 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Berdayakan Kartini Post Milenial dengan Melukis Tas Anyaman

24 April 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Melukis tas anyaman alam lomba melukis tas antar organisasi wanita yang tergabung dalam GOW di CWS, Selasa (23/4)

Melukis tas anyaman alam lomba melukis tas antar organisasi wanita yang tergabung dalam GOW di CWS, Selasa (23/4) (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

MAYJEN SUNGKONO- Memperingati Hari Kartini, 60 perempuan anggota Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Surabaya mengikuti lomba melukis tas di atrium Rotunda Ciputra World Surabaya (CWS). Mereka ditantang untuk mengubah tas anyaman polos menjadi tas motif. Dengan mengangkat tema Kartini masa kini, mereka dibebaskan berkreasi menciptakan Kartini versi masing-masing. 

Alat dan bahan yang digunakan pun cukup sederhana. Hanya tas anyaman berukuran sedang, cat air, dan kuas. Dalam waktu satu jam, ibu-ibu ini dibebaskan untuk menggambar sesua dengan kreativitas masing-masing. 

Meski diberi tema Kartini, menariknya, hampir keseluruhan peserta menggambari tasnya dengan motif bunga warna-warni. Hanya beberapa orang saja yang menggambari tas mereka dengan ornamen lain seperti Kartini ataupun mozaik. Meski begitu, karya-karya mereka terlihat menarik. 

Salah satu tas yang menarik perhatian adalah karya Sri Hardjanti dari Dharma Yukti Kartini dari Pengadilan Negeri Surabaya. Ia menggambari tasnya dengan sangat detail dengan melekakkan portrait sosok kartini di salah satu sisi tasnya. “Saya berusaha menyesuaikan temanya, meskipun ternyata sulit juga menyamakan dengan bentuknya,” imbuhnya. 

Ketua Dharma Wanita Kota Surabaya Iis Hendro Gunawan menyebutkan, selain untuk memperingati Hari Kartini, acara ini juga bertujuan untuk mendorong ibu-ibu anggota GOW agar berperan dalam revolusi industri 4.0. Revolusi industri memang selalu lekat dengan kaum milenial, namun baginya, ibu-ibu post milenial lah yang perlu diberdayakan.

“Kenapa post milenial kita berdayakan, karena mereka biar bisa mandiri, sehingga tidak membebani anak-anaknya,” ujar wanita yang sekaligus ketua GOW Surabaya ini. 

Tas anyaman yang dilukis pun merupakan produk UMKM dari Surabaya. Anyamannya diambil dari perajin Lamongan, kulit diambil dari limbah dari Sidoarjo dan batiknya merupakan limbah perca dari industri batik Surabaya. Sehingga merupakan pemberdayaan dari produk lokal ramah lingkungan. (is/nur)

(sb/is/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia