Minggu, 19 May 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Bakamla-KLHK Gagalkan Penyelundupan 10 Ribu Kayu Eboni ke Tiongkok

16 April 2019, 14: 12: 51 WIB | editor : Wijayanto

DIDUGA ILEGAL: Petugas menunjukkan barang bukti kayu eboni yang diamankan di sebuah gudang kontainer di kawasan Kalianak, Surabaya

DIDUGA ILEGAL: Petugas menunjukkan barang bukti kayu eboni yang diamankan di sebuah gudang kontainer di kawasan Kalianak, Surabaya (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Badan Keamanan Laut (Bakamla) bekerja sama dengan Direktorat Penegakan Hukum Pidana Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggagalkan pengiriman kayu eboni.

Sebanyak 10 ribu balok kayu langka dalam dua kontainer itu hendak dikirim ke Shanghai dan Huangzhou, Tiongkok. Petugas menyita kayu ilegal ini di Kalianak Barat 108 Surabaya. "Kayu ini diamankan saat perjalanan dari Sulawesi Tengah ke Surabaya," kata

Kepala Bakamla RI Laksamana Madya Bakamla Achmad Taufiq, Senin (15/4). "Kami geledah di Kapal Meratus Marinnas. Saat dibuka, dua kontainer ini berisi kayu eboni," tambahnya.

Petugas lalu meminta dokumen kelengkapan kayu yang langka tersebut. Dokumen ekspor kayu ada dan sesuai dengan jumlahnya. Namun, pihak Bakamla tidak percaya begitu saja. "Kami sempat menghubungi bea cukai, namun ternyata diarahkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kami hanya berwenang patroli, sementara penyidikan wewenang KLHK," tuturnya. 

Sementara itu, Direktur Penegakan Hukum Pidana Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK Yazid Nurhuda mengakui pihaknya sempat mendapat perlawanan saat menyidik kasus ini.

Bahkan, pemilik bersikeras jika semua dokumennya legal. Kayu sebanyak 10 ribu balok atau 27,5 meter kubik dengan nominal Rp 1,5 miliar ini sudah sesuai izinnya.

Pihaknya tidak percaya begitu saja. Apalagi, pemilik kayu eboni ini keberatan jika kayu-kayunya disita. Bahkan, mengancam melakukan upaya praperadilan.

"Dokumen ekspornya lengkap, namun dokumen lagalitas hasil hutan belum dikantongi. Jangan lihat nilainya, tapi dampaknya bagi lingkungan hutan," ungkapnya.

Berdasar penyidikan, menurut Yazid, kayu eboni tersebut dikirim oleh UD M dan diambil di Donggala, Sulteng. Dari Donggala, kayu dikirim ke Surabaya untuk dikemas lagi dan diekspor ke Tiongkok. Ini kasus ekspor kayu pertama kali yang ditemukan pihak KLHK.

"Selama ini kami sudah tangani 400 kontainer berisi kayu ilegal, namun hanya antarpulau saja. Kasus ini membuka mata kita terkait kayu ekspor," katanya (gun/rek)

(sb/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia