Kamis, 25 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Istri Atau Ayam? Tenyata Lebih Pilih Ayam

12 April 2019, 02: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Jangan meremehkan hobi laki-laki. Kalau sudah kalap, laki-laki bisa memilih hobinya dibandingkan istrinya. Ya seperti yang terjadi pada pasangan Karin, 45, dan Donwori, 46, ini.

ISMAUL CHOIRIYAH-Wartawan Radar Surabaya

Karin menikah dengan Donwori sudah sangat lama. Sudah mau dua dekade. Keduanya  sudah mempunyai tiga ‘buntut’. Yang sulung, cewek, tahun ini mau masuk perguruan tinggi. ‘Buntut’ kedua kelas VII, sedangkan si bungsu tahun ini lulus SD.

Awalnya, keluarga ini profil happy family. Donwori adalah seorang guru dengan status sudah pegawai negeri. Karin adalah ibu rumah tangga yang punya kemampuan membuat kue. Kue buatannya enak-enak, dan terkenal hingga seantero jalan. Pesanannya banyak. Apalagi jika Agustusan, setiap hari selalu ada pesanan.

Karena kepiawaiannya membuat kue, secara perekonomian, keluarga Donwori dan Karin sangat berkecukupan.  Karin punya pendapatan sendiri, meski tidak tetap tapi lumayan.

Sementara Donwori, selain dapat gaji tetap, juga ada pemasukan lain-lain. Misalnya tunjangan sertifikasi, uang perjalanan dinas hingga uang hasil ngelesi berenang. Donwori adalah guru olahraga yang punya keahlian berenang. “Sing nggarai ngenes, duwite bapake arek-arek kuwi entek gawe adu jago. Padahal sewulan gajine iso limang yuto luwih,” curhat Karin.

Ya, Donwori memang punya hobi sabung ayam. Sayangnya, hobi itu sudah mendarah daging. Saking mendarahdagingnya, hingga menggerogoti keuangan keluarga. Penghasilan Donwori banyak yang disalurkan untuk 'menyejahterakan' ayam jago. Beli pakan, vitamin, hingga ‘buwuh’ kalau ada aduan.

“Semua pengeluaran bulanan, aku sing ngatasi. Tiap tak jaluki jatah, ngomonge gak duwe duwit terus,” lanjut Karin dengan wajah mulai memerah. Di rumah pasangan ini, ada sekitar 15 ekor ayam jago. “Jare wong-wong, regone larang-larang. Ono sing sak yuto luwih. Sebab jenise ayam bangkok,” sambungnya.

Karin sendiri tidak paham soal ayam-ayam aduan itu. Karin hanya paham jika ayam-ayam itu sudah membuatnya emosi. Selain sudah menggerogoti keuangan keluarga, berisik dan bau, juga telah mengalihkan perhatian Donwori.

“Bojo ambek anak wis gak direken blas. Yo pitik-pitik kuwi sing diurusi. Nek pitike lara, melu muntab. Aku sing diamuk. Aku lho gak ngurus blas ambek pitik-pitik kuwi,” Karin makin emosi bercerita.

Donwori juga mulai jarang mau diajak datang ke acara-acara keluarga. Tiap diajak, pamitnya ada bisnis ayam. “Tibake yo adu pitik,” tegas Karin.

Sikap Donwori ini membuat Karin curiga. Karin pun melancarkan aksinya. Ia tanya sana-sini layaknya intel. “Kesimpulane, adu pitik e ternyata ono sing ngancani. Sopo maneh nek gak wedokan. Makane betah sampek duwite entek,” ungkap Karin.

Begitu tahu soal itu, Karin ngamuk. Ayam jago yang nilainya jutaan, ia lepas semua dari kandangnya. “Mbuh do nok endi mlayune. Buyar kabeh pokoke,” akunya dengan senyuman nyinyir.

Tahu koleksinya hilang, Donwori muntab. Ganti ngamuki Karin sampai tega mengeluarkan kata-kata talak. “Nek ancen milih pitike ambek wedokane, yo wis tak iyani. Dikiro aku bakal ngeboti. Blas gak. Wong arek-arek yo wis gede. Wis iso mikir,” ungkap Karin. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia