Kamis, 25 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Oknum Guru SMKN 10 Diduga Cabuli Murid

Gemes Lihat Bodi Siswinya, Dipeluk, Diciumi dan Diputarkan Video Porno

06 April 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

TRAUMA: BK didampingi ayahnya menceritakan pencabulan yang dilakukan oknum gurunya kepada wartawan.

TRAUMA: BK didampingi ayahnya menceritakan pencabulan yang dilakukan oknum gurunya kepada wartawan. (GUNTUR IRIANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Seorang siswi sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN) 10 di Surabaya diduga dicabuli oleh gurunya saat jam sekolah, Kamis (4/4) sekitar pukul 13.30. Korban inisial BK, 17, yang didamping orangtuanya telah melaporkan kasus ini ke pihak sekolah agar sang guru dipecat. Namun belum ada tindakan dari pihak sekolah sampai saat ini.

Korban yang didampingi ayahnya, Sukardi, mengaku dicabuli pelaku saat jam sekolah. Modusnya, ia diajak membantu memasang banner di ruangan yang situasinya cukup sepi. Kemudian dia dirayu, dipeluk bahkan diciumi. 

"Dia tiba-tiba bilang kalau suka bodi saya. Gemes kalau lihat saya," kata korban BK menirukan percakapan BHS kepadanya.

Tak sampai di situ, oknum guru itu juga memutarkan video porno dari ponselnya dan menanyai korban apakah pernah melakukan adegan dalam video tersebut. Hal ini membuat korban trauma dan melaporkan kejadian asusila itu ke pihak sekolah dengan didampingi orangtuanya. 

Wakil Kepala Humas SMKN 10 Surabaya Hari Effendi kepada Jawapos.com membenarkan telah menerima aduan dari wali murid terkait dugaan pencabulan yang dilakukan salah satu oknum guru di sekolah itu. Namun, ia mengatakan pengaduan itu baru sepihak karena ada mekanisme di sekolah untuk menanggapi keluhan.

Hari mengaku akan meneruskan pengaduan dari wali murid itu kepada Kepala SMKN 10 Surabaya, H. Kamus. “Segera akan kami bentuk tim dan mengkroscek. Jadi antara siswa dan guru akan dipertemuka untuk kami selesaikan secara kekeluargaan,” kata Hari yang ditemui di SMKN 10 Surabaya, Jumat (5/4).

Sementara itu, orang tua BK, Sukardi, 50, belum berencana melaporkan dugaan pencabulan yang menimpa anaknya kepada polisi. Ia berdalih ingin menyelesaikan permasalahan ini secara kekeluargaan. Namun, pihak sekolah harus memecat oknum guru tersebut.

“Saya belum lapor polisi. Saya baru lapor ke sekolahan. Saya masih punya rasa kemanusiaan. Yang penting, orangnya mengakui kesalahannya terus dia dipecat dari sekolah,” ucap Sukardi.

Ia menyebut putrinya sempat mendapat video call via whatsapp dari BHS usai kejadian hari itu. “Katanya jangan bilang siapa-siapa. Intinya, diancamlah,” ungkap Sukardi. (gun/jpc/jay)

(sb/jpc/gun/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia