Jumat, 26 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya

Glaukoma Penyakit Turunan yang Bisa Dicegah

24 Maret 2019, 08: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Pencegahan: dr. Lydia Nuradianti memeriksa mata pasien. Pemeriksaan mata secara berkala dapat menurunkan risiko terserang glaukoma.

Pencegahan: dr. Lydia Nuradianti memeriksa mata pasien. Pemeriksaan mata secara berkala dapat menurunkan risiko terserang glaukoma. (ISTIMEWA)

Surabaya – Tekanan yang tinggi di atas 21mmHg pada bola mata merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan saraf pada glaukoma. Penyakit ini sering disebut sebagai pencuri pengelihatan karena sebagian besar tidak bergejala. Pasien cenderung tidak menyadari dan ternyata glaukoma merupakan penyakit turunan dengan risiko terjangkit lima kali lebih besar dari pewarisnya.

Glaukoma juga bisa disebabkan faktor usia di atas 40 tahun, miopia atau rabun jauh, pengobatan dengan kortikosteroid jangka panjang, ruda paksa mata, katarak dan diabetes mellitus. Penyakit ini bersifat kronik progresif yang artinya kerusakan terjadi dalam waktu lama dan semakin lama semakin berat. Kerusakan saraf menyebabkan hilangnya lapangan pandang seseorang. Awalnya terjadi pada sisi perifer atau tepi sehingga pasien tidak memiliki keluhan dalam aktivitas sehari-hari. Apabila tekanan intraokular terus tidak terkontrol maka pengelihatan sentral pun akan rusak secara permanen. 

“Cek tekanan bola mata secara rutin. Untuk usia 40 ke atas minimal dua tahun sekali. Bagi yang punya riwayat keluarga glaukoma harus cek setahun sekali,” ujar Dokter Spesialis Mata Rumah Sakit Mata Undaan, dr. Lydia Nuradianti, Sp.M, Sabtu (23/4).

Di tahun 2018, pasien glaukoma yang memeriksakan diri rumah sakit mata di Surabaya mencapai 8.054 orang, meningkat dua kali lipat dari tahun 2017, yakni 4.965 penderita. Pasien yang datang dalam keadaan 52 persen sudah mengalami kebutaan. Sedangkan pasien yang dioperasi mencapai 963 pasien (2018), 532 penderita (2017). 

Serangan glaukoma pun dibagi menjadi dua jenis, serangan mendadak (akut) dan perlahan (kronis). Serangan mendadak ditandai dengan mata merah, nyeri bisa sampai muntah, pandangan langsung kabur. Serangan kronis ditandai dengan mata putih, tidak ada nyeri, tidak bisa melihat pelangi. 

Sampai saat ini belum ada obat yang menyembuhkan glaukoma. Tujuan pengobatan ini untuk mengontrol dan mencegah perburukan penyakit tersebut. Tanpa pengobatan yang tepat, glaukoma dapat berakhir kebutaan. Penanganan akhir penderita glaukoma memanglah operasi. “Tapi tidak bisa mengembalikan pengelihatan seratus persen.  Dioperasi untuk mengurangi produksi cairan mata dan memperbaiki saluran pembuangan cairan mata saja,” tambahnya.

Hal yang penting dicermati, bahwa glaukoma sebagian besarnya tidak bergejala sehingga pasien cenderung tidak mengetahuinya. Maka dari itu, deteksi dini merupakan cara pencegahan kebutaan akibat glaukoma. (rpp/nug)

(sb/jpg/jek/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia