Kamis, 25 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Istri Kabur setelah Jual Rumah Cicilan

24 Maret 2019, 02: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Banyak perempuan mata duitan yang menikah untuk mengejar harta. Karin, 26, ini salah satunya. Ia mau dinikahi pria tak sempurna demi mengeruk kekayaannya. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya        

Sampai saat ini, Donwori, 35, masih mangkel dengan Karin. Bisa-bisanya dia kabur  membawa uang hasil menjual sertifikat rumah. Padahal, cicilannya saja belum lunas dibayar. Bertemu dengan Radar Surabaya di kantor Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin siang, Donwori menumpahkan kekesalannya. Panasnya Surabaya makin memuncahkan amarahnya. "Goblok. Omah apik kok didol murah. Regone pas tuku ae, nyundul langit," omel Donwori. 

Donwori adalah salah satu anggota TNI. Saat menikah dengan Karin, keadaan fisiknya sudah tak sempurna akibat kecelakaan lima tahun lalu. Awalnya ia merasa beruntung masih ada perempuan muda, cantik lagi, yang mau dengannya. Bedebahnya, rupanya Karin hanya mengejar harta Donwori saja. 

Awalnya, Donwori juga tak sadar. Di tahun-tahun pertama pernikahan, Karin tak menunjukkan gelagat mencurigakan. Namun, belakangan Karin kerap memaksa Donwori untuk menjual rumah-rumah miliknya yang bertebaran di berbagai sudut kota (memang, Donwori ini orangnya hobi berinvestasi). Karena alasan yang disampaikan Karin klise, Donwori tak mau mendengar.

"Dikatakan daripada rusak nganggur, mending dijual untuk modal usaha. Gak logis blas. Ya gak tak turuti," sambung Donwori, masih dengan nada mangkel level 10 . 

Namun untuk rumah yang satu itu, Donwori rela mengabulkan keinginan istri, karena Karin mengancam-ancam minta cerai kalau keinginannya tak dituruti. Karena Donwori belum siap menduda, akhirnya dijual lah rumah itu. 

Urusan negosiasi hingga deal-deal-an, Karin yang bertugas. Sementarasoal uang hasil  transferan, dimasukkan ke rekening Donwori. Ya meskipun Karin juga yang memegang kartunya. Nah Karin ini bak kancil saja. Saat si pembeli mentransfer uang, ia buru-buru mencairkan dan kabur entah ke mana. Tak cukup dengan uang itu, juga seluruh tabungan yang tersisa di rekening Donwori.

Di situ lah ubun-ubun Donwori panas. Rasa-rasanya dia pengen melaporkan Karin ke polisi saja, kala itu. Masalahnya, bukan apa-apa. Rumah yang uangnya Karin bawa kabur itu adalah hasil menggadaikan SK pengangkatan pegawainya. Yang paling besar nominalnya. Pembayaran cicilan di bank pun belum lunas. "Angsurane durung mari , duwite wes mabur," lanjutnya makin mangkel. 

Setelah peristiwa kaburnya Karin itu, Donwori tak menyerah. Dengan hati dongkol, ia hubungi Karin berkali-kali. Bukan memohon untuk balik ke rumah, tapi mengajak Karin kompromi.

Ia saat itu sudah dalam keadaan ikhlas kalaulah Karin tak lagi setia dengan membawa uang-uangnya. Asalkan mau berbaik hati membagi separuh saja hasil penjualan rumahnya. Setidaknya kalau lah rugi, ia gak rugi-rugi amat. "Wingi durung teko (sidang). Awas ae gak teko. Tak uber nandi wae," pungkasnya dengan amarah makin di ubun-ubun. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia