Selasa, 23 Apr 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Gresik
Syamputra Isroza, Pendiri Umasinggah Nunobi

Lepas Kerinduan pada Istri, Bersihkan Perlengkapan Pasien Sendiri

18 Maret 2019, 23: 40: 11 WIB | editor : Wijayanto

PEDULI : Syamputra Isroza bersama Galuh Anjungsari pasien kanker asal Sidoarjo.

PEDULI : Syamputra Isroza bersama Galuh Anjungsari pasien kanker asal Sidoarjo. (UMI HANY AKASA/RADAR GRESIK)

Inisatif pendirian Umasinggah Nunobi tidak lepas dari penyakit kanker yang diderita almarhumah Dian Novita, istri Syamputra Isroza, 34. Dari proses pengobatan bertahun-tahun sang istri, Syamputra menemukan berbagai masalah yang dirasakan pasien kanker, utamanya tempat singgah. Dari situ, tekat Putra makin mantap membuat rumah singgah gratis untuk pasien yang berobat di wilayah Gresik. 

Hany Akasah-Wartawan Radar Gresik 

Seorang lelaki muda, tampan dengan badan tinggi sedang menyapu di musala Umasinggah Nunobi, Jl A Kartini Gg 1A nomer 11, Gresik. Usai menyapu pria bernama Syamputra Isroza melanjutkan tugas mencuci dan merendam sprei dengan Dettol. “Semua saya lakukan sendiri (menyapu, mengepel, mencuci perlengkapan pasien, dan lain-lain, Red). Semua barang yang dipakai pasien kanker itu harus higienis,” kata  Putra. Berbekal pengalaman merawat almarhumah istri yang terkena kanker selama empat tahun, Putra setidaknya sudah tahu standarisasi penanganan terhadap pasien kanker. 

Pria yang bekerja sebagai Supervisi Health Safety and Environment PT Pertamina itu bahkan rela bolak-balik Lamongan-Gresik ketika ada pasien kanker yang menghubunginya untuk singgah di Umasinggah Nunobi. “Kerja saya 14 hari masuk, 14 hari libur. Kalau kerja dari pukul 06.00 sampai 18.00. Dari Lamongan, biasanya pulang dulu ke rumah di Bunder, mandi, terus ke sini (Umasinggah Nunobi,red)  sampai 23.00. Ya bersih-bersih, nyuci, apa saja,” ungkap alumnus ITS tersebut.

Mantan pebasket itu melakukan dengan ikhlas. Putra bahkan merasa puas bisa menyempatkan dan membantu seluruh kebutuhan pasien dengan tangannya sendiri.  Bagi dia,  merawat pasien mengingatkannya saat merawat istrinya yang saat itu sedang sakit. “Orang punya masa titik terendah. Kalau saya mungkin waktu istri sakit, masa sulit itu bisa membuat saya rindu. Dengan cara ini (sibuk mengurus Umahsinggah,red) saya melepas kerinduan itu,” kata anak tunggal itu. 

Dikatakannya, mimpi membuat rumah singgah itu sudah setahun lalu. Saat sang istri masih hidup. Waktu, almarhumah Dian Novita keluar masuk rumah sakit baik di Gresik dan Surabaya untuk proses kemoterapi dan terapi lainnya. Di situ, Putra dan istri menemukan banyak pasien kanker luar kota yang kebingungan mencari tempat singgah.

“Mau ngekos dan cari hotel, tidak punya uang. Akhirnya, mereka menunggu waktu tidur di selasar musala, rumah sakit, kadang di pinggir jalan. Bayangkan kondisi sudah sakit, terus tidur di teras itu, apa mereka tidak tambah sakit,” kata alumnus SMAN 1 Gresik itu dengan mata berkaca-kaca.

Dari situ, Putra dan almarhumah akhirnya berencana membuat rumah singgah untuk pasien kanker. Keinginannya bersambut baik. Rekan kerjanya mempunyai lahan keluarga yang akan dibuat kos-kosan, karena tidak ada biaya pembangunan hanya sampai tahap struktur. “Mulanya saya ingin menyewa rumah untuk bisa ditempati singgah, namun saat teman saya menyatakan boleh digunakan untuk rumah singgah, akhirnya proses pembangunan saya teruskan sampai selesai,” kata Putra.

Dari proses struktur bangunan, dinding, keramik semua dibiayai Putra dengan uang pribadinya. “Niat dari awal untuk rumah singgah pasien. Habis berapapun waktu itu tidak saya pikirkan,” kata ayah dari Sakanu, 7 itu. 

Usai sang istri meninggal November 2018, Putra langsung meresmikan Umasinggah dengan tasyakuran bersama warga sekitar pada Desember 2018 lalu. “Tiga minggu pertama tidak ada pasien. Saya juga sempat bingung, kok gak ada yang singgah.  Akhirnya, saya menghubungi perawat RS Semen Gresik, Bu Astri. Dari situ pasien yang singgah makin banyak. Kini total 35 orang,” kata Putra.

Keinginan Putra saat ini hanya ingin pasien kanker yang berobat di Gresik bisa lebih berkurang bebannya dengan adanya rumah singgah tersebut. “Semoga bermanfaat. Itu sudah cukup bagi saya, dan alhamdulillah makin banyak yang tahu Umasinggah Nunobi,” pungkas Putra. (*/han)

(sb/han/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia