Rabu, 20 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo

Warga Ketegan Menolak Pembangunan Rumah Duka

14 Maret 2019, 14: 47: 24 WIB | editor : Wijayanto

DEMO: Warga memprotes pembangunan rumah persemayaman di Kelurahan Ketegan, Taman.

DEMO: Warga memprotes pembangunan rumah persemayaman di Kelurahan Ketegan, Taman. (VEGA DWI ARISTA/RADAR SURABAYA)

SIDOARJO - Pembangunan rumah persemayaman jenazah alias rumah duka di Kelurahan Ketegan, Kecamatan Taman, diberhentikan sementara. Komisi A DPRD Sidoarjo meminta PT Surga Pelangi selaku investor untuk menunda pengerjaan pembangunan hingga ada keputusan lebih lanjut.

POLEMIK: Suasana hearing terkait pembangunan rumah persemayaman di Kelurahan Ketegan, Taman, di DPRD Sidoarjo.

POLEMIK: Suasana hearing terkait pembangunan rumah persemayaman di Kelurahan Ketegan, Taman, di DPRD Sidoarjo. (VEGA DWI ARISTA/RADAR SIDOARJO)

Dalam hearing di gedung DPRD, puluhan warga Kelurahan Ketegan dari RT 13 dan 14, RW 03 datang. Perwakilan dari PT Surga Pelangi serta dari kelurahan dan kecamatan serta Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) juga ikut hadir dalam rapat dengar pendapat tersebut.

Salah satu warga, Edi Susanto, mengatakan, warga menyayangkan terbitnya surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk rumah persemayaman tersebut. Lahan itu hendaknya digunakan untuk pembangunan, selain yang berhubungan dengan mayat. “Kami menolak karena merasa tidak nyaman jika kampung kami dibangun rumah persemayaman,” katanya.

Karena itu, warga ingin Pemkab Sidoarjo dan Komisi A memberhentikan rencana pembangunan rumah persemayaman tersebut. Warga juga khawatir jika nantinya bangunan yang berada di lahan sekitar 1,8 hektare itu juga akan digunakan sebagai tempat pembakaran mayat.

General Affair PT Surga Pelangi Ali Komala mengatakan, perizinan untuk mendirikan rumah persemayaman sudah dikantonginya. Salah satunya IMB. Bahkan, pihaknya juga sudah bertemu dengan sejumlah perwakilan warga untuk membahas rencana pembangunan rumah persemayaman tersebut. “Sejumlah prosedur sudah kita lalui. Penolakan akibat ada persaingan bisnis,” ujarnya.

Menanggapi permsalahan itu, anggota DPRD Sidoarjo Saiful Maali bersikap tegas. Dia merekomendasikan agar pembangunan rumah persemayaman dihentikan sementara. Pihaknya bersama dengan dinas terkait juga akan melakukan sidak ke lokasi rencana pembangunan tersebut. “Kami akan datangi lokasi secepatnya,” terang Sekretaris Komisi A ini.

Anggota Komisi A Wisnu Pradono meminta agar pihak terkait seperti Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu bersama Komisi A meninjau langsung lahan pembangunan tempat persemayaman itu. Harapannya, bisa melihat secara langsung kondisi di lapangan dan dampak yang terjadi terhadap warga sekitar. “Sesuai aturan, izin investor sudah benar. Maka, kami akan lihat di lapangan untuk tindak lanjutnya,” ujar Wisnu.

Kisruh rencana pembangunan rumah persemayaman atau rumah duka di Kelurahan Ketegan, Taman, ini mendapat perhatian banyak kalangan. Termasuk sejumlah relawan dan aktivis sosial kemasyarakatan dari Kota Surabaya. “Kita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Ketegan,” kata Gunawan, asal Surabaya.

Pria yang juga rohaniwan itu juga melihat langsung lokasi pembangunan di pinggir jalan raya dan pinggir tol Sepanjang ke Satelit Surabaya. Gunawan mengaku terkejut karena saat hearing di Pemkab Sidoarjo, pihak investor ternyata berencana membangun hotel 10 tingkat. Lokasinya di lahan yang awalnya dilaporkan perizinannya sebagai rumah duka. “Warga juga baru tahu saat hearing di pemkab. Saya juga bingung dengan konsep hotel di samping rumah duka,” katanya.

Menurut Gunawan, sejak rencana pembangunan rumah persemayaman jenazah mencuat sekitar 14 tahun lalu, komunikasi dan sosialisasi dari pihak investor dengan warga mengenai proyek itu sangat kurang. “Saya percaya dengan komunikasi yang baik dan musyawarah untuk mufakat, selalu ada jalan keluar dari setiap permasalahan,” katanya.(vga/rek)

(sb/vga/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia