Rabu, 20 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Berawal dari Masalah Anak, Merembet ke Ukuran 'Aksesoris'

14 Maret 2019, 01: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Orang tua lebih sayang pada anak sendiri ketimbang anak sambung, kiranya sudah naluri. Tapi, tak jarang perlakuan tidak adil semacam ini, bisa menimbulkan perselisihan. Ya seperti yang terjadi pada Karin, 50 dan Donwori, 52, ini. Yang sebentar saja bubar jalan karena sama-sama tak bisa adil. Harusnya mereka belajar pada pasangan Anang-Ashanty.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Hubungan Karin dan Donwori masih seumur jagung, ketika keduanya memutuskan untuk bercerai. Mereka menikah baru pertengahan 2016 lalu, dan memutuskan bercerai setelah bertengkar hebat dan menyakiti hati masing-masing. 

Pertengkaran itu bermula pada aduan anak Donwori yang kedua. Ia mengatakan jika Karin kerap bersikap tak adil. Kalaulah memberikan apa-apa, Karin akan memberikan lebih kepada anaknya sendiri ketimbang kepada anak Donwori. Mungkin hal ini memang naluri orang tua kandung dan maklum saja. Namun, akhirnya Donwori angkat suara juga karena gemas diwaduli berkali-kali.

"Awale iku biasa, tukaran antar saudara. Anakku dimarahi anaknya (Karin, Red), karena pakai motornya kelamaan. Eh, emake ikut memarahi sisan. Dikatain menyusahkan. Suruh belikan bapake (Donwori,Red) sendiri,” terang Donwori di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan ini. 

Rupanya, Karin tak terima diingatkan. Karin malah balik ngamuk melawan Donwori dengan mengatakan rugi telah menikahi pria biasa, yang sekadar memuaskan hasrat seksualnya saja tak bisa. Tak cukup itu, Karin bahkan membanding-bandingkan pelayanan suaminya dahulu dan suami yang sekarang. 

Kalau dari olok-olokan Karin, ‘punya’ Donwori sangat mini. Tak bisa membuat Karin senang. Donwori yang tak terima pun membalas dengan mengatakan ‘punya’ Karin yang oversized alias kebesaran. Gara-gara saling merendahkan ‘aksesoris’ masing-masing ini, pertengkaran keduanya memanas hingga berujung talak. 

"Dekne ngomong, opo sing tak aboti, wong kamu gak bisa memuaskan. Dipikir, dia saja yang gak puas. Aku ya ora. Wong kendo kabeh, ngunu," tukasnya. Owalah, mungkin perceraian ini sejak awal dibumbui dengan rasa sakit hati juga. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia