Rabu, 20 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Features

Musim Dingin Melanda, Ratusan Anak Gaza Ceria Terima Jaket Hangat ACT

21 Februari 2019, 14: 42: 34 WIB | editor : Wijayanto

THANKS ACT: Seorang anak Gaza berkebutuhan khusus menyampaikan rasa terimakasihnya dengan membeber spanduk atas bantuan ratusan jaket hangat dari ACT.

THANKS ACT: Seorang anak Gaza berkebutuhan khusus menyampaikan rasa terimakasihnya dengan membeber spanduk atas bantuan ratusan jaket hangat dari ACT. (ISTIMEWA/ACT)

GAZA – Musim dingin dan ancaman cuaca buruk yang melanda Palestina direspon Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan secara berkelanjutan menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan warga Negeri Syam tersebut.

Selama musim dingin atau sejak akhir Januari lalu, 425 jaket hangat telah dibagikan ke anak-anak Palestina yang tinggal di sekitaran kota Gaza. Seperti Shejaiya, Khan Younis, dan Beit Lahia. Ratusan jaket hangat tersebut seketika membuat anak-anak Gaza yang menerimanya cerah dan ceria.

Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) - ACT mengatakan, bantuan jaket hangat ini diberikan kepada anak-anak yatim dan berkebutuhan khusus.

DIPILIH DIPILIH: Seorang anak dan ibunya mencoba jaket hangat dari ACT.

DIPILIH DIPILIH: Seorang anak dan ibunya mencoba jaket hangat dari ACT. (ISTIMEWA/ACT)

“Banyak anak-anak yang harus merasakan udara dingin setiap kali ke sekolah karena tidak memiliki jaket yang memadai. Alhamdulillah, jaket yang diberikan pada akhir Januari lalu bermanfaat hingga kini, di tengah cuaca Gaza yang saat ini sedang menurun,” jelas Faradiba, Senin (18/2).

Sebelumnya Departemen Meteorologi Palestina memberi peringatan dini cuaca buruk untuk wilayah Gaza, Jumat (15/2). Hujan dengan suhu udara dingin akan menyelimuti Negeri Syam itu hingga Senin (18/2).

Dari pantauan cuaca, suhu di Gaza berada di angka 12 hingga 10 derajat Celsius. Sementara itu, hujan bahkan badai juga diprediksi akan melanda beberapa wilayah di Gaza.

Warga juga diperingatkan untuk waspada terhadap adanya kemungkinan banjir yang akan melanda. Cuaca yang menurun ini membuat warga Palestina makin membutuhkan logistik yang mampu membantu mereka menghalau hawa dingin maupun kemungkinan akan banjir.

Mariam, salah satu anak berkebutuhan khusus yang juga yatim merasa senang mendapatkan jaket hangat bantuan ACT untuk melewati musim dingin yang berat pada tahun ini.

Menurut dia, ibunya tak bisa membelikan baju hangat akibat kondisi perekonomian keluarga yang tidak memungkinkan. “Aku merasa senang sekali. Terima kasih ACT,” kata Mariam.

Musim dingin di Palestina sudah mulai terasa sejak akhir tahun 2018 lalu, tepatnya di sekitar bulan Oktober dan November. Menjelang 2019, suhu udara terpantau terus turun. Sampai saat ini sudah tercatat puluhan orang meninggal dunia.

Selain orang dewasa, tercatat juga anak-anak menjadi korban musim dingin di tengah blokade yang berkepanjangan. Peringatan malnutrisi sudah diberikan kepada anak-anak sekolah. Mereka amat rentan kekurangan gizi akibat kurangnya sarapan sebelum sekolah.

Tak hanya manusia, dari laporan Al Jazeera pada pertengahan Januari lalu, empat anak singa mati di Kebun Bintang Gaza. Empat hewan itu mati setelah satu hari dilahirkan. Mereka tidak tertolong setelah badai merobek pelindung kandang hangat mereka.

Tim Kebun Binatang Gaza Fathy Joma menjelaskan, pihaknya tak bisa menyelamatkan hewan yang mulai langka itu karena tidak memiliki persediaan obat yang memadai pascablokade oleh Israel sejak belasan tahun lalu. (act/jay)

(sb/jpc/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia