Senin, 18 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Features Gresik
Belajar dari Kasus Murid Tantang Guru

Lingkungan Berpengaruh, Perkuat Pendidikan Karakter Siswa

12 Februari 2019, 17: 17: 12 WIB | editor : Wijayanto

PERHATIAN:  Pengamat pendidikan, pemerhati anak dan kepolisian saat menyelesaikan kasus murid SMP yang menantang gurunya di Mapolsek Wringinanom.

PERHATIAN: Pengamat pendidikan, pemerhati anak dan kepolisian saat menyelesaikan kasus murid SMP yang menantang gurunya di Mapolsek Wringinanom. (YUDHI DWI ANGGORO/RADAR GRESIK)

Peristiwa tidak sopan yang dilakukan AA, 15 kepada gurunya Nur Khalim menggores dunia pendidikan di Indonesia. Muncul tanggapan dari seluruh elemen masyarakat di Gresik maupun Indonesia. Ada yang mengapresiasi tindakan guru, mencemooh guru tidak tegas, anak dipidanakan dan lain sebagainya.

HANI AKASAH-Wartawan Radar Gresik

KEPALA Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak dr Adi Yumanto mengapresiasi langkah guru yang memilih sabar atas tindakan anak. Bagi dia, anak yang masih umur 15 tahun itu sedang mengalami masa pubertas. Mereka masih dalam proses belajar sehingga perlu bimbingan dan pembinaan secara intensif dari guru, orang tua maupun lingkungannya.

“Anak seumuran itu bukan nakal yang kriminal. Anak ini mungkin terprovokasi dengan lingkungannya. Menganggap hal itu wajar, makanya perlu pembinaan dan pengarahan terhadap anak yang seperti itu,” kata Adi.

Untuk penindakan kepada siswa, sebenarnya sudah memberikan pelatihan kepada guru bimbingan konseling (BK).  Bahkan, Pemkab Gresik melaksanakan program croscating atau prinsip tematik holistic integratif spasial dalam upaya penguaran gugus tugas kabupaten layak anak. “Kami bergerak di hulu dan SK Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak, yang melibatkan OPD (Organisasi Pemerintah Daerah,red). Setiap OTD mempunyai tugas untuk pengembangan maupun pembinaan kabupaten layak anak. Misalnya, Dinkes melakukan imunisasi, Dispendik pembinaan guru, Dispora dan lain sebagainya,” jelasnya. Adi pun berharap seluruh pendidik di Gresik tetap sabar dalam menyikapi tumbuh kembang anak. “Harus sabar dan penuh kasih sayang,” ungkapnya.                                                                                                                                                                                                     

Pernyataan berbeda justru datang dari tim pusat kajian psikologi anak Jatim,  Primatia Yogi Wulandari. Mima-sapaan Primatia melihat kejadian tersebut sebenarnya kompleks dan  bisa dilihat dari beberapa faktor. Seorang ahli psikologi, Bronfenbrenner menyatakan anak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang dinamis.  “Dengan demikian, ketika muncul suatu perilaku, faktor lingkungan juga akan memiliki pengaruh yang sangat besar,” ungkap Mima.

Dikatakan, pengaruh utama dari keluarga. Keluarga sebagai madrasah utama harus mengajarkan pentingnya untuk belajar menghormati dan menghargai orang lain, terutama orang lebih tua, apapun kondisinya. “Apalagi itu guru. Hanya saja, saat ini ada kecenderungan "demokrasi" yang berlebihan,” jelasnya. Mima melihat masyarakat sekarang cenderung kritis terhadap situasi sosial.

Misalnya, perilaku guru, sekolah kepada muridnya selalu menjadi sorotan utama. Misalnya, banyak kasus pelaporan orangtua kepada guru maupun sekolah karena mereka bersikap tegas kepada   anaknya. Orangtua yang merasa memiliki uang dalam membayar sekolah merasa laporan anak selalu dibenarkan. Padahal, keluarga khususnya orangtua harus mencermati tindakan yang dilakukan guru maupun sekolahnya. Pada kondisi ini, anak yang memiliki masalah perilaku justru akan semakin bertindak semena-mena. Ia merasa kalau sekolah bayar dan dilindungi orangtua. Anak merasa dapat melakukan apapun di sekolah.

Pengaruh lainnya yakni  faktor teman sebaya. “Sangat miris melihat tidak ada seorang pun yang berusaha mengingatkan anak di kasus ini. Mereka justru tertawa dan merekam kejadian itu,” jelasnya. 

Pengamat pendidikan, Taufiq Harris mengaku sangat apresiasi sikap yang dilakukan Nur Khalim. “Ini benar-benar guru hebat,” bangganya. Taufiq menyatakan, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh tiga hal. Diantaranya, keluarga, sekolah dan lingkungannya.

Tindakan anak yang berani menantang guru itu karena mereka masih mencari proses pencarian jati diri. Mereka masih meraba dan tidak mengetahui apakah tindakan tersebut salah dan benar.

“Ibarat kata, ketika anak itu diberi pembersih maka akan bersih. Jika digertak atau dipukul, maka kaca akan pecah selamanya. Guru tidak menggores dan bahkan dampaknya akan sangat positif terhadap anak tersebut. Dia sadar dan akan memperbaiki sikapnya,” ungkapnya. Untuk mengubah sikap siswa sekolah, pendidikan seharusnya mengutakan pendidikan karakter. Teori pendidikan karakter selama ini tidak banyak diaplikasikan. “Selama ini, image pendidikan moral hanya ditanggung guru agama, PKN dan BK. Padahal semua guru dan orangtua juga harus aktif mendampingi siswanya,” ungkapnya.

Ketua PGRI Gresik, Arief Susanto mengatakan terkait dengan kasus tersebut sebenarnya PGRI sendiri sudah melakukan mediasi dan upaya penguatan terhadap sistem pendidikan dan perlindungan terhadap guru. Selama ini, sering kasus guru masuk ke dalam penjara karena laporan dari orangtua. “PGRI RI sudah kerjasama dengan Polri untuk perlindungan guru dalam mengajar. Kami juga melakukan upaya yang sama kepada Pemkab dan DPRD Gresik. Harapannya, semoga bisa terealisasi yang jelas,” ungkapnya. (*/ris)

(sb/han/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia