Selasa, 19 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Kembangkan Potensi Wisata Kelas Dunia, Bangun Museum Religi Ampel

11 Februari 2019, 12: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

TAMBAH FASILITAS: Sejumlah pengunjung berada di kawasan wisata religi Sunan Ampel, Nyamplungan, Surabaya.

TAMBAH FASILITAS: Sejumlah pengunjung berada di kawasan wisata religi Sunan Ampel, Nyamplungan, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan membuat museum di kawasan wisata religi Ampel Surabaya. Pembangunan ini dilakukan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi objek wisata religi yang mampu bersaing di kelas dunia.

“Ya, kami berharap museum ini benar-benar diadakan, karena wisata religi ampel ini banyak menyimpan sejarah dan juga budaya sejak sekitar 600 tahun yang lalu,” kata Takmir Masjid Ampel Surabaya Achmad Wahyuddin, Minggu (10/2).

Perlu diketahui bahwa kawasan wisata religi ampel banyak menyimpan sejarah dan budaya, mulai dari era Majapahit, penjajahan Belanda dan juga masa-masa kemerdekaan. Di mana era tersebut menjadi saksi dan bukti terjadinya peperangan maupun penjajahan pada masa itu.

Wahyudin mengungkapkan, dibutuhkan peran pemerintah dalam merevitalisasi kawasan wisata religi Ampel. Karena pemkot merupakan stakeholder yang mempunyai wewenang di kawasan ini. Akan tetapi, nantinya dibutuhkan adanya diskusi dan pengkajian lebih lanjut untuk melihat kebutuhan masyarakat setempat jika pemkot akan merevitalisasi Wisata Religi Ampel.

“Kami berharap supaya pemkot melakukan penataan kawasan secara menyeluruh, bukan hanya secara parsial,” tambahnya. Menurutnya revitalisasi ini harus dikaji dengan matang dan disesuaikan dengan budaya, sejarah, dan ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Ery Cahyadi mengungkapkan, saat ini pemkot sedang melakukan pengkajian dalam merevitalisasi kawasan wisata religi di Surabaya.

Adapun yang sedang dikaji meliputi Mbah Bungkul, Masjid Rahmat Kalimas, dan Sunan Ampel Surabaya. “Tujuan penataan ini selain mengembangkan potensi wisata, juga mengatur kenyamanan dan kepuasan pengunjung,” tambahnya.

Pembangunan di kawasan wisata religi Sunan Ampel pun masih membutuhkan pengkajian yang cukup panjang. Karena pemkot melihat semua sisi budaya, sejarah, ekonomi, dan kenyamanan pengunjung di kawasan tersebut.

Pengkajian ini pun, lanjut Ery, bukan hanya dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, maupun Bappeko saja, melainkan menyertakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surabaya, akademisi, ahli sejarah, dan pastinya warga setempat kawasan tersebut.

“Adanya sinergitas tersebut bertujuan agar revitalisasi ini tidak merugikan pihak-pihak tertentu. Karena kemungkinan apa yang direncanakan oleh pemkot kurang sesuai diterapkan dalam masyarakat,” jelasnya.

Ery menyampaikan nantinya di kawasan tersebut akan didirikan museum religi agar pengunjung bisa langsung mengetahui sejarah dan budaya di kawasan tersebut. Selain itu, yang menjadi perhatian pemkot meliputi tidak tertatanya pedagang kaki lima di jalan raya, lahan parkir yang masih di tepi jalan, dan juga fasilitas penyebarangan pengunjung.

“Nah, permasalahan-permasalahan ini nantinya yang akan kami selesaikan, tujuannya agar kawasan lebih menarik, pengunjung nyaman dan ekonomi masyarakat setempat meningkat,” ungkap Ery.

Nantinya, pemkot akan melakukan sentralisasi parkir untuk pengunjung kawasan Sunan Ampel, baik kendaraan roda dua, mobil maupun bus di terminal. Sedangkan alternatif untuk menyeberang ke masjid dan makam Ampel, pemkot akan membuat penyebrangan jalan zebra cross serta dilengkapi lampu penyebrangan.

“Jadi kami tidak membuat Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) agar pengunjung masih bisa melewati Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berada di wilayah tersebut,” pungkasnya. (gin)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia