Senin, 18 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Gresik

Pakai Tanah Bekas SD, Warga Banyuwangi Protes Proyek Balai Desa

08 Februari 2019, 19: 31: 59 WIB | editor : Wijayanto

SENGKETA : Pengadilan Negeri (PN) Gresik melakukan peninjauan lokasi lahan yang diprotes warga.

SENGKETA : Pengadilan Negeri (PN) Gresik melakukan peninjauan lokasi lahan yang diprotes warga. (FAHTIA AINUR ROFQ/RADAR GRESIK)

GRESIK – Rencana pembangunan Balai Desa Banyuwangi, Kecamatan Manyar di lahan bekas Sekolah Dasar (SD) mendapat protes dari warga. Warga meminta agar tanah yang dihibahkan salah satu warga tersebut tetap digunakan untuk kepentingan pendidikan.

Bahkan, ahli waris pemilik tanah yang dihibahkan untuk kepentikan sekolah tersebut melayangkan gugatan kepada Pengadilan Negeri (PN) Gresik. Kemarin, PN Gresik meninjau langsung lokasi tanah tersebut.

Kedatangan tim dari  PN disambut puluhan warga yang didominasi ibu-ibu. Selain itu, pihak ahli waris dan pemerintah desa juga ikut mendampingi. Di lokasi juga dipasangi warga spanduk bertuliskan agar tanah kembali difungsikan untuk lembaga pendidikan.

H. Ahmad Zainul salah satu ahli waris kepada wartawan mengatakan, dulunya tanah milik keluarganya itu diminta paksa oleh kelurahan untuk dibangun SD Inpres sekitar tahun 1970-an. Pihak keluarga merelakan, lalu dalam perjalanannya bangunan SD tersebut mangkrak hingga menjadi bangunan tua yang sudah tidak terpakai.

Tetapi di atas tanah milik keluarganya itu malah dibangun Kantor Kepala Desa hingga warung. "Kami tidak pernah tandatangan, saudara-saudara kami juga tidak ada yang tandatangan," ujarnya.

Pihaknya menggugat agar tanah tersebut kembali difungsikan untuk lembaga pendidikan. Mengingat pihak keluarga sejak awal merelakan tanah tersebut dibangun untuk sekolahan. "Saya tidak meminta uang sepeserpun, kasihan warga harus kesana-kesini mengantar proposal ke perusahaan untuk sekolahan, padahal disini sudah ada lahannya," kata dia.

Pihaknya juga tidak mempermasalahkan Balai Desa Banyuwangi sendiri berada di tanahnya. Dia hanya prihatin sekolah yang sudah mangkrak sejak tahun 1990-an. "Kalau ada kelebihan tanah saya beri ke Desa, saya tidak minta uang, Almarhum ibu saya cuman ingin sekolah ini difungsikan kembali," terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Banyuwangi, Arief Efendi saat dikonfirmasi mengatakan terkait rencana pembangunan Balai Desa sudah dilakukan sosialisasi kepada seluruh tokoh desa. Dan mereka setuju. “Dan tanah tersebut juga telah menjadi asset desa,” ungkap dia.

Dikatakan, selain membangun Balai Desa, pihaknya juga berencana membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Nanti hasil dari BUMDes bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat termasuk dunia pendidikan. “Kami juga sudah meminta ahli waris untuk menjadi Ketua BUMDes agar hasilnya benar-benar bisa digunakan untuk pendidikan,” imbuhnya. (rof/ris)

(sb/rof/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia