Senin, 18 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Emoh Pisah, Pilih Bertahan dengan Pelet Dukun

08 Februari 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Namanya juga masih cinta. Ya wajar saja jika mengupayakan segala cara agar pernikahan tetap bertahan. Dengan mendatangi dukun sekali pun. Seperti yang dilakukan oleh Donwori, 36, ini.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Dari pengakuannya kepada Radar Surabaya, Donwori bukanlah tipikal pria yang percaya klenik. Ia paham betul,  mengandalkan hal-hal semacam itu adalah syirik dan diganjar dosa. Namun, demi cinta, dia rela menerabas keyakinan yang dipegang selama ini. 

Ini semua ia lakukan karena hubungan pernikahannya dengan Karin sudah di ujung tanduk.  Segala upaya yang ia lakukan tidak mampu lagi membuat Karin bertahan, di sisinya

Sampai usahanya memohon-mohon pengacara untuk membujuk Karin pun tetap tak mempan. Karin tetap tak bergeming, ngengkel mau mengajukan cerai. Ya pakai jasa pengacara yang didatangi Donwori itu tadi. 

Mungkin saking prihatinnya, si pengacara itu pun  menyarankan Donwori untuk pergi ke Lamongan. Menemui dukun yang masyhur dalam menyelamatkan rumah tangga retak. Dari sini Radar Surabaya baru tahu bahwa cakupan pekerjaan pengacara sangat luas, jadi konsultan pernikahan pun bisa. 

"Begitu dikasih alamate, langsung Mbak, aku motoran sendiri ke sana. Berangkat sepulang kerja, sempet ketiduran di masjid (ada yang ganjil dari ceritanya?), akhire sampai ke dukune Subuh," cerita Donwori di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan itu.

Sampai di sana, Donwori diberi semacam pelet, yang dibungkus dalam kain. Kata si dukun, Donwori harus mencelupkan kain itu ke dalam air yang akan diminum Karin, setiap hari. Pulanglah Donwori dengan membawa jimat pemersatu rumah tangga itu. 

"Gimana, Mas?  Berhasil ?" tanya Radar Surabaya antusias. Diakui maupun tidak, cerita berbau klenik memang selalu menarik. 

"Ealah, dapak berhasil. Bojoku tambah muleh nak omahe pak mboke," jawabnya, sedikit ngegas.

Yah, kesimpulan kasarnya, mau sekuat apapun usahanya, kalau 'aku saja yang cinta sementara kamu tidak' (hembook jeru) ya percuma. Atau mungkin, dukunnya kurang manjur? Tapi kan tadi katanya tersohor dalam urusan menyambung cinta? Wallahu a'lam.

Dan setelah berputar-putar terus ketika ditanyai, akhirnya Donwori terbuka dengan permasalahan rumah tangganya. Katanya, hingga sampai ke perceraian ini karena Karin kecewa. Ia menuduh Donwori kurang tanggung jawab dalam memberi nafkah. Kebutuhan rumah tangga banyak, tapi pemberiannya seadanya.

"Kurang tanggung jawab piye maneh seh, entokku ancen sak munu. Iku wes tak kasihno dia kabeh (nyinggetne saitik seh, gawe rokok karo ngopi), ngono kok dianggep kurang tanggung jawab," keluh Donwori panjang lebar.

Yang Artinya. "Kurang bertanggung jawab seperti apa lagi. Pendapatanku memang cuma segitu. Itu pun sudah saya serahkan dia semua. (Menyelipkan sedikit sih, untuk rokok dan kopi). Sudah begitu kok tetap dianggap kurang tanggung jawab."

Apalagi, lanjut Donwori, gajinya  di perusahaan swasta bisa dibilang lebih dari cukup lho. Dua kali dari UMR Surabaya. Kalau sampai kurang ya artinya Karin yang tak becus mengelola keuangan. Itu versi Donwori sih, entah bagaimana faktanya kalau dari versi Karin. (*/ opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia