Rabu, 20 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Pengembangan Industri Migas Terkendala Pemahaman Masyarakat

07 Februari 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

BERI EDUKASI: Kepala Humas SKK Migas Jabanusa Doni Ariyanto menjadi narasumber dalam diskusi migas di Hotel Kampi Surabaya, Rabu (6/2).

BERI EDUKASI: Kepala Humas SKK Migas Jabanusa Doni Ariyanto menjadi narasumber dalam diskusi migas di Hotel Kampi Surabaya, Rabu (6/2). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas Jawa Bali Nusa Tenggara (Jabanusa) mengungkapkan bahwa hingga saat ini, industri migas kerap mengalami hambatan dan gangguan sosial. Sehingga cukup mengganggu rencana produksi migas. Padahal, kebutuhan minyak semakin tinggi sedangkan produksi terus menurun.

Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyar mengatakan, oleh karena itu, SKK Migas agresif mendorong pemahaman masyarakat terhadap pentingnya industri minyak dan gas dari hulu hingga hilir. "Kami ingin agar masyarakat, maupun pemda paham informasi dan kondisi migas saat ini, karena migas ini bukan hanya masalah negara, tapi masalah individu juga karena setiap orang mengkonsumsi minyak dan gas untuk kebutuhan energi," jelasnya dalam diskusi di Surabaya, Rabu (6/2).

Menurut Ali, dukungan dari pemerintah maupun masyarakat dalam meningkatkan industri migas ini diharapkan bisa menarik investor untuk ikut menjalankan program eksplorasi, eksploitasi maupun tertarik untuk membangun kilang minyak di Indonesia, khususnya Jatim sebagai kontributor terbesar produksi hulu migas. "Kalau investor tertarik, maka pendapatan negara juga akan baik dan semua pihak akan ikut menikmati hasilnya," imbuhnya.

Begitu juga untuk industri hilir migas, yakni pembangunan kilang minyak. Ali berharap, Jatim memiliki kilang minyak lantaran 40 persen produksi minyak mentah ada di Jatim. "Kalau minyak mentah kita bisa diolah di dalam negeri sendiri, di situ ada pemangkasan biaya yang sangat besar," ungkap Ali.

Menurutnya, sebenarnya wacana pembangunan kilang minyak terus mencuat. Salah satu yang dibidik adalah Tuban dengan menggandeng investor asal Rusia Rosneft Oil Company. Namun ternyata saat ketika akan direalisasikan, ada kendala di lapangan. Masyarakat sekitar disebut menolak pembangunan kilang minyak di wilayah tersebut. 

Walau sudah ditetapkan dan dilelang proyek kilang di Tuban oleh pelaksana dari Rusia, tapi ternyata di lapangan ada masalah dan akhirnya sempat ada wacana pemindahan kilang minyak di Bondowoso. Tetapi rupanya rencana tersebut juga batal. "Presiden Joko Widodo belum lama ini meminta pembicaraan pembangunan kilang minyak di Tuban dilakukan secara baik-baik," ujarnya. 

Ali menilai, banyak dampak ekonomi yang dapat dimanfaatkan jika pembangunan kilang minyak direalisasikan. Salah satunya terbukanya kesempatan kerja bagi warga Tuban. Selain dapat mengurangi defisit neraca perdagangan. 

Di tempat yang sama, Pengamat Ekonomi Hadi Prasetyo menyebut bahwa negara ini butuh membangun kilang minyak untuk mengurangi defisit perdagangan luar negeri. Padahal investasi di kilang minyak ini sangat diperlukan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan luar negeri. Keberadaannya dapat memangkas impor yang masih didominasi migas. "Selama ini, Indonesia selalu melakukan ekspor minyak mentah. Begitu sudah jadi, di impor kembali ke dalam negeri. Kondisi tersebut, dinilai sangat merugikan perdagangan luar negeri," ungkapnya. (cin/nur)

(sb/cin/jek/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia