Rabu, 20 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Surabaya
Inilah 4 Alasan Kaum Perempuan Tidak Menikah

Takut Menjanda, Pilih Jomblo Aja, Yang Penting Happy

04 Februari 2019, 00: 27: 04 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (NET/PINTEREST)

PEREMPUAN punya banyak pilihan dalam hidupnya. Termasuk urusan pasangan hidup. Kalau dulu ada anggapan, perempuan itu harus menikah, semakin ke sini, ‘rumus’ dari orang tua itu semakin diabaikan. Perempuan tak harus memiliki suami. Yang penting toh bahagia. Apalagi di dunia ini yang dicari, selain kebahagiaan? Begitu kira-kira anggapan sebagian kecil perempuan yang memilih jadi jomblo seumur hidup, bila dibandingkan menikah tapi diceraikan.

Apa enaknya punya suami, tapi kalau ujung-ujungnya selingkuh? Apa enaknya punya suami, kalau pada akhirnya menjanda karena suami terpikat perempuan lain? Yang lebih langsing, lebih cantik, lebih kaya, lebih kinclong dan lebih segalanya. Pastinya lebih sakit bila diceraikan.

Ari, misalnya. Perempuan 40 tahun ini sudah melewati usia-usia krusial (antara 25-35 tahun) untuk menikah. Dosen di sebuah perguruan tinggi swasta itu sudah memutuskan untuk tak menikah. Penyebabnya bukan karena ia tak ada yang naksir atau tak ada pria yang mengajaknya menikah.

“Dengan kondisi saya yang seperti, yang menurut saya lumayan, ajakan pria untuk menjalin hubungan resmi pasti ada. Tapi, sudah saya putuskan untuk tidak menikah, kok,” kata Ari.

Ia punya alasan kuat untuk tidak menikah. Alasan itu menurutnya sangat manusiawi. “Saya takut pernikahan saya tidak berjalan mulus,” sambungnya. Takut diceraikan? Ternyata Ari menjawab dengan mantab, “Ya.”

Ia bercerita, keputusannya  yang anti mainstream itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Ibunya adalah janda empat anak yang ditinggal laki-laki (suaminya) ketika anak bungsu masih berusia 7 bulan. Ayah Ari kepincut perempuan lain. “Saya sebagai anak sulung, ikut merasakan betapa sulitnya ibu menjadi janda dan membesarkan empat anak,” lanjut Ari.

Saat ayahnya pergi, usia Ari masih sembilan tahun. Kepergian ayahnya membuat ia punya rasa takut yang teramat sangat. “Sampai sekarang saya nggak pernah  punya keinginan menikah. Sedikit pun. Aneh, kan. Tapi itulah fakta yang saya alami. Saya takut mengalami apa yang seperti ibu saya alami. Mending jadi jomblo, tapi bahagia. Daripada menikah tapi diceraikan,” curhatnya, lantas tertawa.

Disampaikan oleh psikolog Riza Wahyuni, alasan pertama  perempuan pilih menjomblo adalah karena personality. Keputusan  ini biasanya datang dari seseorang yang mandiri, baik  dalam kehidupan pribadi maupun karir. Orang seperti ini biasanya tatag dan powerful, sehingga tidak membutuhkan seseorang yang menyokong kehidupannya.

Keputusan ini akan banyak datang dari orang-orang yang lebih mengutamakan karir dan sibuk mengejar materi.  Hal ini kebanyakan terjadi pada orang yang tinggal di perkotaan yang sudah luntur nilai-nilai normatif.

Alasan selanjutnya adalah  adalah lifestyle atau gaya hidup. Saat ini orang tidak ingin ribet untuk menjalin kehidupan emosional dengan orang lain. Atau istilah santainya, males baper-baperan dengan orang lain.  Bagi sebagian orang, bentuk perhatian kepada pasangan dianggap sesuatu yang membuang waktu. Apalagi diperkuat dengan pemikiran yang sudah bebas bahwa untuk bisa mendapatkan keturunan dan memenuhi kebutuhan biologis,  bisa dilakukan dengan siapa saja dan kapan saja tanpa terikat status pernikahan maupun pacaran.

Yang ketiga adalah orientasi seksual. Bisa jadi, seseorang memilih sendiri karena memiliki orientasi seks yang berbeda dengan kebanyakan orang. Karena kesulitan mencari kecocokan, akhirnya lebih memilih untuk menyendiri. “ Bisa juga karena efek traumatis terhadap kehidupan seks, sehingga menolak untuk memiliki pasangan,” kata perempuan berkacamata itu.

Selanjutnya adalah efek traumatis. Bisa jadi seseorang enggan menikah karena meilhat orang lain  hidup tidak bahagia dengan pernikahannya. Pengaruh ini datangnya dari keluarga dekat, seperti korban broken home, sehingga akan membentuk pikiran mereka bahwa semua hubungan juga akan berakhir seperti itu. (is/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia