Rabu, 20 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Rela Diajak Tidur Demi Tebus Sertifikat Tanah

02 Februari 2019, 17: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi

Ilustrasi (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Karena pernikahan bukanlah pegadaian yang bisa mengatasi masalah tanpa masalah, maka jangan jadikan menikah sebagai solusi untuk lepas dari masalah, ladies. Iya kalau suaminya penuh pengertian, kalau sebaliknya? Ujung-ujungnya kita juga yang susah. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Ini sharing saja. Sebagai bentuk perhatian Radar Surabaya kepada jomblowati yang barangkali ada pikiran, "Nikah saja wes daripada begini terus. Kalau ada suami kan enak, ada yang menanggung dan bla bla bla.”

Lha mbok pikir menikah sebahagia film-film di Disney Princess. Yang begitu menikah langsung tamat? Di dunia nyata, tak semudah itu, Marimar Jangan sampai, yang terjadi kepada Karin terulang pada dirimu, Nak. 

Karena dulu, awalnya Karin juga berpikiran klise macam kalian. Setelah melepas mimpinya sebagai pramugari, ia memutuskan untuk buru-buru menikah dengan Donwori. Di pikirannya, pekerjaan Donwori cukup menjanjikan hidup sejahtera. Namun rupanya, kenyataan berkata lain. Benar gaji Donwori besar, tapi ia pelit setengah mati. 

Saking pelitnya, keinginan Karin untuk memboyong orang tua ke kediamannya saja harus terhenti. Dilarang oleh Donwori. "Dia takut kalau orang tua nimbrung pengeluaran bisa bengkak. Lha kok kebacut," serunya menahan emosi kepada Radar Surabaya yang menemuinya di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan lalu. 

Padahal, Karin ini tujuannya hanya mau berbakti. Ia kasihan kalau orang tua yang tinggal satu-satunya ini tak terurus. Apalagi sudah tak bisa bekerja. Ya selama ini, Karinlah yang menopang hidup ibunya. 

Tentu saja biaya itu tak dikeluarkan Donwori. Wong untuk istri saja ia pelit, apalagi untuk orang lain. Sebaliknya, Karin lah yang memutar otak demi bisa menjatah orang tuanya. Uangnya dari mana? Dari joinan usaha MLM dengan kenalan baru. Lebih tepatnya rentenir. 

Karena di awal tak punya modal untuk berwirausaha, Karin menyerahkan sertifikat rumah sebagai jaminan usaha. Tentu saja tanpa sepengetahuan Donwori. "Ya ada untung sedikit, tapi rasanya belum balik modal. Jalannya pelan-pelan (bisnis, Red)," ujarnya.

Dan ndilalah, secara tiba-tiba, Donwori mencari surat tanah itu. Akhirnya bingung lah Karin. Mau ia minta kembali, ia tak punya uang untuk menebus. Mau tak diambil, takut dicerai suami. 

Hingga kemudian, si rentenir itu kembali menawarkan solusi yang malah menambah masalah. Ia berkata akan menggugurkan utangnya, asalkan Karin mau diajak tidur. Dan bodohnya, Karin mau. Demi mempertahankan keluarga, katanya. 

Apesnya lagi, perbuatan Karin yang mau melayani om-om ini langsung ketahuan Donwori. Yang langsung muntab dan menjatuhkan talak. Donwori bahkan sudah berburuk sangka dengan mengecap Karin sebagai wanita gampangan.

Maunya menyelamatkan pernikahan, eh malah menghancurkan kalau begini ceritanya. "Padahal sumpah, hanya sekali itu saja aku tidur sama pria lain. Ya gara-gara sertifikat itu," katanya. 

Dan sekarang, beginilah nasib pernikahan Karin. Berakhir di PA Klas 1 Surabaya. Sudah menikah tahunan dan gak dapat apa-apa, cerai dengan nama yang buruk pula. Tahu seperti ini, yakin mau buru-buru menikah? (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia