Rabu, 20 Feb 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

'Dijual' Orangtua ke Suami Kaya tapi Pelit

30 Januari 2019, 05: 05: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Pasti semua perempuan pernah guyonan klise perihal pasangan. Yang maunya punya suami tua, kaya raya, penyakitan, tinggal meninggalnya dan tak punya ahli waris. Hayo ngaku saja. Ya bayangan-bayangan bahagia ini yang terlintas di benak Karin, 28, saat menikahi Donwori, 59. Dan ndilalahnya kok mbleset.

Ismaul Choiriyah-[Wartawan Radar Surabaya 

BISA dibilang, Karin adalah korban perjodohan orang tua. Atau yang lebih pas, 'dijual' orang tua sendiri. Bapaknya punya banyak hutang kepada Donwori. Sayangnya, saat jatuh tempo,  tak bisa melunasi. Alhasil ditawarkanlah Karin pada kakek-kakek tua itu. Sebagai pengganti utang. Istilahnya, hutang duwit, gak bisa bayar, nah si anaklah yang akhirnya dibuat untuk bayar hutang. Yah, rupanya cerita bak di sinetron-sinetron itu terjadi juga di dunia nyata.

Dan tawaran orang tua Karin ini disetujui oleh Donwori. Bahkan tak lama, ia gercep melakulan prosesi lamaran. Ya tidak heran sih, dari segi fisik Karin memang  menggoda. Memiliki tubuh segar dan seksi, dengan wajah bak Aura Kasih. Siapa laki-laki yang mau nolak. Apalagi, Donwori sudah berstatus duda lama. 

Meski istilahnya 'dijual' orang tua sendiri, Karin tak keberatan sama sekali. Dipikirnya, tak ada ruginya. Toh, katanya, Donwori ini tetap terlihat oke meskipun sudah aki-aki. Dan tentu saja, bayangan hidup sebagai nyonya tunggal bergelimang harta menggoda imannya. "Gak usah munafik lah Mbak. Pasti semua perempuan mau kaya, kan,? Sampeyan sendiri pasti seneng kalau punya suami kaya," celetuknya di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin.

Sayang beribu sayang, bayangan-bayangan hidup penuh gemerlapan ini tak sempat Karin rasakan. Belum genap satu tahun, Karin sudah minta cerai. Ia tak tahan lagi. Rupanya Donwori tipikal suami pelit. (Mungkin) karena punya mental pengusaha, segala pengeluaran dan pemasukan, dipikirkan matang-matang. Maka tak heran kalau Karin tak bisa membeli barang-barang branded impiannya. Tak akan diperbolehkan. Tak penting. katanya. 

Jangankan barang branded, sekadar perhiasan kecil yang di awal pernikahan dijanjikan Donwori saja, sampai bercerai tak kunjung dibelikan. Atau minimal liburan ke Bali lah, yang untuk ukuran kantong Donwori, sangat murah, juga tak pernah diberikan. "Ya gak tahan lah Mbak, buat apa kaya cuma status saja asline sama-saja kayak dulu. Mau dibawa mati apa ya uangnya, sampai segitu eman mau ngeluarin," kata perempuan berambut hitam ini, penuh penekanan. 

Sebagai istri yg notabene punya hak meminta suami, Karin berkali-kali sempat protes. Meminta suaminya lebih loman. Namun jawaban ringan dan menohok malah diutarakan Donwori tanpa beban. "Kalau nuruti foya-foyamu, bisa-bisa aku kakehan hutang kayak bapakmu," kata Karin menirukan ucapan Donwori dengan tatapan nanar seakan mau keluar saja bola matanya. Tidak ah, terlalu hiperbola kalau ini. Pokoknya Karin marah. 

Ya begini lah berakhirnya hubungan asmara Karin dan Donwori. Diteruskan pun rasa percuma karena ia yakin, sampai mati pun Donwori akan tetap pelit. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia