Rabu, 20 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi

Bisnis Hotel Diprediksi Masih Landai pada 2019

29 Januari 2019, 00: 38: 20 WIB | editor : Wijayanto

KEJAR OKUPANSI: Salah satu hotel budget di kawasan Jalan Diponegoro Surabaya.

KEJAR OKUPANSI: Salah satu hotel budget di kawasan Jalan Diponegoro Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur memprediksi okupansi atau tingkat keterisian kamar hotel tahun ini setidaknya bisa lebih baik dibanding 2018. Yakni berada di atas 65 persen. 

Ketua PHRI Jawa Timur Herry Siswanto mengatakan, pihaknya memproyeksikan tahun ini akan lebih baik dari tahun lalu yang mencapai 61 persen. "Bisa terpenuhi tergantung pertumbuhan ekonomi nanti," terangnya.

Diakuinya, tingkat okupansi hotel semakin berat setiap tahunnya. Pertumbuhan hotel yang terus terjadi mempengaruhi tingkat keterisian kamar. Persaingan antara hotel baru dengan lama tidak terelakkan lagi, sehingga perang harga sering terjadi. "Belum lagi promosi yang luar biasa. Hotel lama tidak mau beresiko, kalau mengumbar sama dengan hotel baru mereka takut kehilangan pelanggan," ungkapnya. 

Herry berharap pertumbuhan perizinan bisa dimoratorium sampai bisnis perhotelan kembali membaik, terutama yang di Surabaya. Karena ia menilai persaingan hotel sampai sekarang tak cukup sehat. 

Belum lagi patokan terkait status bintang sebuah hotel yang tak jelas. Banyak hotel bintang empat, ternyata harga justru mendekat ke bintang tiga. Ini semakin memperburuk persaingan hotel. “Kami berharap pemerintah pusat bisa lakukan moratorium pertumbuhan hotel,” ungkapnya. 

Senior Research Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto menyebutkan, akan ada 988 kamar baru di Surabaya dari hotel berkelas bintang tiga, empat dan lima tahun 2019. Ini menambah 14.139 kamar yang ada pada tahun 2018. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia