Selasa, 22 Jan 2019
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Ditawarkan lewat WA, Kencan Bisa di Mana Saja

13 Januari 2019, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Rozack

Ilustrasi prostitusi online.

Ilustrasi prostitusi online. (Grafis: Fajar)

Ratusan kilometer dari Jakarta, tempatnya hidup dan mencari nafkah, Vanessa Angel memilih Surabaya untuk menjemput rezeki pertamanya di 2019.  Rezeki senilai Rp 80 juta itu akhirnya justru mengungkap keterlibatannya dengan prostitusi online.  

Muhammad Mahrus-Wartawan Radar Surabaya

Sepekan terakhir publik dihebohkan dengan terungkapnya kasus prostitusi online di Surabaya, yang melibatkan artis Vanessa Angel dan model majalah dewasa Avriella Saqila. Terbaru, hasil penyidikan polisi menemukan fakta baru. Ada dua nama mantan finalis Puteri Indonesia,  juga terseret lingkaran bisnis esek-esek itu. Hingga saat ini total 8 orang artis dan model yang nama-namanya sudah disebut polisi dalam konferensi pers. Mereka adalah Vanessa Angel, Avriella Saqila, Maulia Lestari, Baby Shu, Fatya Ginanjarsari, Riri Febianti Aldira Chena, dan Tiara Permatasari. 

Pengungkapan kasus prostitusi online dilakukan oleh Tim Subdit V Siber Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur. Bermula dari informasi masyarakat dan patroli siber polisi, akhirnya berhasil membongkar jaringan prostitusi online yang melibatkan 145 artis dan model popular. 

Kali pertama polisi berhasil menangkap Vanessa Angel dan seorang lelaki hidung belang di salah satu kamar hotel berbintang di Kota Pahlawan, sepekan lalu. Saat ditangkap, Vanessa dalam keadaan berduaan dan melakukan hubungan intim di kamar nomor 2721 sebuah hotel berbintang. 

Tak hanya Vanessa, di lokasi tersebut polisi juga mengamankan tersangka mucikari Endang Suhartini (ES), dan AH (asisten artis) di kamar hotel nomor 2720. Selang sejam kemudian polisi juga berhasil mengamankan Avriella Saqila yang saat itu berada di pintu keluar Tol Waru. Ia dalam perjalanan menuju hotel yang sama. 

Keempat orang perempuan yang diamankan langsung digelandang ke Mapolda Jatim. Malamnya polisi juga menangkap Tantri (T) di salah satu apartemen di Jakarta Timur. Total 5 orang diamankan polisi. Setelah menjalani pemeriksaan 1 x 24 jam, dari 5 orang tersebut, 2 orang terbukti dan ditetapkan sebagai tersangka karena berperan sebagai mucikari. Keduanya, Endang Suhartini dan Tantri. Sementara, Vanessa dan Avriella dilepas dengan status sebagai saksi korban. Namun, keduanya tetap wajib lapor di Mapolda Jatim. "Dua orang ES dan T telah ditetapkan tersangka karena terbukti sebagai mucikari," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera, belum lama ini. 

Barung menjelaskan, modus tersangka menawarkan artis melalui pesan WhatsApp (WA). Lalu, mereka mematok tarif sesuai kepopuleran artis atau model. Untuk Vanessa, sekali kencan si pengguna harus membayar Rp 80 juta. Sementara Avriella sekali kencan Rp 25 juta. "Sebagai tanda jadi, pengguna diminta membayar DP 30 persen. Sisanya (dibayar, Red) saat ketemu," sambungnya. 

Saat penangkapan, Sabtu (5/1), polisi menyita beberapa barang bukti, di antaranya sekotak kondom merk Sutra, 1 celana dalam warna ungu (milik Vanessa), 1 sprei warna putih, 1 kacamata merek Tompord warna cokelat, ATM dan 3 buah handphone.

Dua hari dilakukan penyidikan pengembangan, polisi kembali mendapatkan petunjuk  baru dan membuat temuan yang mencengangkan. Ternyata ada 45 artis (diduga bawahan tersangka ES) dan 100 model majalah dewasa (bawahan Tantri) yang terlibat dalam bisnis lendir itu. Nama-nama semuanya sudah dikantongi polisi. Semua nama akan dipanggil untuk dimintai keterangan. 

Tak hanya itu, polisi juga menemukan fakta baru. Prostitusi online artis dan model itu dilakukan tidak hanya di satu kota. Bahkan semua kota sampai ke luar negeri. Semua tergantung pemesannya. Umumnya para pengguna berasal dari pengusaha tajir dan pejabat. Tarifnya pun bervariasi. Mulai dari Rp 25 juta hingga Rp 300 juta untuk sekali kencan. Untuk pembagiannya, seperti yang diungkap (kasus Vanessa) tarif Rp 80 juta itu diduga si artis menerima Rp 35 juta. Sisanya dibagi-bagi oleh mucikari. "Tarif tergantung tingkat kepopuleran artis dan model," jelas Barung. 

Untuk transaksinya, semua sama. Melalu digital, termasuk pembayarannya. Sisanya setelah ketemu. Dua orang mucikari yang ditahan diduga selalu menemani pesanan setiap hari. Mereka juga tergolong mucikari yang bukan biasa. Sebab mereka harus tahu siapa pelanggannya dan di mana eksekusinya. Selain itu, mucikari juga langsung transaksi face to face hand to hand dengan pengguna. 

Untuk mengungkap lebih jauh jaringan prostitusi online artis dan model itu, polisi telah membuka data digital forensik di laboratorium forensik Polda  Jatim terhadap semua alat komunikasi yang disita. Dari data digital forensik itu nantinya akan diketahui, apa saja percakapan, transaksi seks dan semua komunikasi yang dilakukan tersangka. 

Menurut Barung, digital forensik memerlukan waktu 3 hari sampai seminggu. "Saat ini baru 10 persen, kalau sudah selesai nanti akan disampaikan," janjinya. 

Tak berhenti disitu, Kamis (10/1), polisi kembali menggelar konferensi pers terkait perkembangan penyidikan prostitusi online. Sehari sebelum konferensi pers, kuasa hukum Vanessa membantah jika kliennya terlibat. Namun polisi menemukan fakta baru yang mengejutkan. Dalam waktu kurang lebih setahun, polisi menemukan transaksi uang dari rekening koran Endang senilai Rp 2, 8 milliar. Tercatat ada 15 transaksi yang melibatkan artis Vanessa. Nilainya pun fantastis. "Ini masih kami dalami semua transaksi tersebut mengenai peruntukannya," tambah Direskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan. 

Di hari yang sama, Kamis (10/1), dua tersangka Endang alias Siska dan Tantri juga memberikan pengakuan mengejutkan kepada publik. Mereka mengaku merasa dijebak, dan hanya menjadi korban juga. Sebab, mereka mengaku sebagai teman  dan hanya menolong. Akan tetapi malah masuk ke penjara. "Kita kan hanya perantara, hanya menolong teman. Tapi kenapa kita yang ditahan seolah seperti mucikari," ujarnya saat live di sebuah televise swasta nasional. 

Tak hanya itu, kedua tersangka juga mengaku tidak merekrut artis dan selebgram. Justru malah sebaliknya. Para artis dan selebgram lah yang menawarkan diri. "Tidak mengajak ya, tetapi mereka (artis dan model, Red) menawarkan diri," kata Tantri, perempuan asal Jakarta Selatan itu. 

Keduanya mengaku hanya sebagai penghubung saja. Penghubung antara artis dan pengguna. "Ya mereka memang mau. Aku hanya sekadar penghubung saja, tidak lebih dari itu," bantah Siska. Untuk fee yang diterima, tersangka Tantri mengaku hanya mendapatkan sekitar 10 persen dari tarif yang dipatok artis atau model dalam sekali kencan. Keduanya juga jarang bertemu dengan Vanessa dan Avriella.

Kedua tersangka mengatakan jika tidak dimintai tolong maka tidak akan terjadi pengungkapan prostitusi artis di Surabaya. Kepada polisi, keduanya juga berharap meminta keadilan. Kedua tersangka mendesak kepolisian untuk mengenakan pasal yang sama terhadap Vanessa dan Avriella. "Kalau bisa sih sama-sama kena pasalnya aja ya. Mungkin dia gak hanya menikmati uang yang ini, tapi uang yang lain juga. Bisa jadi alasannya itu bohong," bebernya. 

Keduanya juga mengaku jika hubungannya dengan para artis dan model, hanya pertemanan. Memang ada sebagian dari artis dan model yang menawarkan diri. Akan tetapi juga ada yang  disuplai dari agen masing-masing. "Harus ditelusuri kalau dia sering ambil job di luaran sana, ya job ini (prostitusi online)," katanya. Tersangka juga membantah pernyataan Vanessa jika dijebak. Apabila dijebak mungkin kedua tersangka juga tidak ikut masuk ke penjara. "Ya mungkin keadaan yang jadi dia seperti ini. Kalau bisa jangan suka berbohong dan jangan menjerumuskan orang demi kepentingan pribadi. Oknum lain tolong ditelusuri," harapnya. 

Sementara itu, Jumat (11/1), Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan kembali melakukan konferensi pers. Ia menyebutkan jika penyidik Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim sudah melayangkan surat panggilan terhadap 6 orang artis dan selebgram yang diduga terlibat. "Enam orang artis ibu sudah ada namanya, dua artis sinetron dari televisi swasta Indonesia, dua finalis Putri Indonesia 2016 dan 2017, dua lagi ini artis FTV dan model," katanya didampingi Kasubdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Harissandi. 

Orang nomor satu di Polda Jatim itu menjelaskan, surat panggilan yang dilayangkan merupakan panggilan pertama untuk dimintai keterangan. Mereka sesuai rencana dipanggil minggu depan. Kapolda mengungkapkan jika panggilan pertama tak datang, mereka akan dipanggil kembali. Apabila sampai tiga kali tidak hadir, maka akan dilakukan upaya paksa. "Karena ini menyangkut jaringan prostitusi online, DPO-nya mudah-mudahan segera ditangkap. Kalau ketangkap lebih besar lagi (jaringannya)," tegasnya. 

Masih di tempat yang sama, Kabid Humas Polda Jatim menambahkan, keenam artis yang dipanggil itu sudah ada bukti-bukti dan keterkaitan dalam bisnis lendir prostitusi yang memiliki tarif ratusan juta itu. "Enam orang artis itu ML (Mulya atau Maulia Lestari, finalis Putri Indonesia 2016 asal Jambi), BS (Baby Shu, model dan selebgram), Fatya Ginanjarsari (finalis Putri Indonesia 2017 asal Kalimantan Utara), Riri Febianti (artis sinetron), Aldiena Chena dan Tiara Permatasari," ungkap Barung kepada wartawan. 

Perwira menengah dengan tiga melati di pundak itu, memaparkan dari penyidikan nanti akan terungkap apa peranan yang bersangkutan. "Nama-nama kita sampaikan sebagai bukti polisi serius menangani kasus prostitusi ini," tegasnya. 

Mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan itu menuturkan, dari 145 artis dan model itu, mereka juga ada beberapa yang masih di bawah umur 20 tahun sudah terlibat. Yakni ada usia 19 tahun hingga 30 tahun. Untuk tarif sesuai dengan tingkat kepopuleran para artis, model dan selebgram. Semakin terkenal maka tarifnya pun semakin mahal. 

Menurut Barung, penyidikan kasus prostitusi online ini masih terus berlanjut. Semua nama-nama artis model sudah dikantongi. Semuanya nanti akan dipanggil satu per satu. Dua mucikari yang menjadi DPO sudah dalam pengejaran. Polisi juga sudah mengantongi tempat persembunyian mereka.  

Sementara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka, Endang dan Tantri, dikenakan pasal 27 ayat 1 Jo pasal 45 ayat 1 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukumannya 6 tahun penjara. Selain itu keduanya juga dikenakan pasal 296 KUHP Jo 506 KUHP tentang Mempermudah Perbuatan Cabul. Ancaman hukumannya maksimal 1 tahun 4 bulan penjara. (*/opi)

(sb/rus/jek/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia