Kamis, 21 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Gresik
Nasib Perajin Klompen Sunan Prapen, Gresik

Ditinggalkan Warga, Justru Diminati Pasar Luar Negeri

12 Januari 2019, 13: 39: 36 WIB | editor : Wijayanto

TELATEN: M Syasik sedang menyelesaikan produk klompennya untuk dipasarkan ke luar negeri.

TELATEN: M Syasik sedang menyelesaikan produk klompennya untuk dipasarkan ke luar negeri. (FAJAR YULI YANTO/RADAR GRESIK)

GRESIK - Produksi hasil Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Gresik sudah merambah pasar mancanegara. Seperti produksi sandal kayu atau klompen asal Sunan Prapen. Meski sudah tidak diminati warganya sendiri, produksi klompen asal Giri itu sudah memiliki pasar sendiri di luar negeri.

Di negeri sendiri ditinggalkan, di luar negeri justru sangat dicari. Begitulah ungkapan yang terjadi pada produksi klompen di Gresik. Peminar klompen di Gresik, bahkan Jatim terus mengalami penurunan. Kondisi itu terbalik. Di luar negeri, peminat baik dari segmen menengah sangat meningkat.

Pengrajin klompen, Muhammad Syasik mengatakan sebagai kota industri, Gresik membuat banyak perubahan pada budaya dan kehidupan masyarakatnya. “Masyarakat sekarang lagi demen pabrik, bukan dari perajin. Tapi, justru di luar negeri mereka sangat menghargai hasil produksi tangan manusia,” jelasnya.

Di luar negeri, peminat klompen berbagai motif dan model, seperti slop, silang, jepit dan kombinasi lainnya. “Untuk klompen sendiri juga ada jenis klompen hak tinggi dan hak sedang,” jelasnya. Bahan kayu mahoni digunakan  karena lebih ringan dan keset. Untuk warna masih diberi kesan original dengan seratan kayu bewarna hitam dan coklat.

Permintaan yang cukup banyak tidak serta merta mampu memenuhinya. Syasik mengaku sering  kewalahan karena jumlah karyawannya masih sedikit. “Harapan saya, kerajinan klompen bisa mampu meningkatkan kualitas hidup manusia dan memberikan kesempatan kerja kepada orang lain,” ungkapnya.

Menurut dia, UKM Gresik sudah waktunya berjaya kembali.  Pabrik mulai mengganti manusia dengan mesin dan robot atau investor  yang membangun industri yang lebih menguntungkan di tempat lainnya. Hal itu membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi hampir seluruh di perusahaan. Untuk itu, harus ada gerakan ekonomi melalui pemberdayaan UMKM. “Kami terus berjuang supaya UMKM bisa tumbuh dan membuka lapangan kerja untuk warga,“ ungkapnya. (jar/han)

(sb/jar/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia