Selasa, 22 Jan 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Melas di Depan Mertua, di Belakang Malakin Istri

11 Januari 2019, 04: 15: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Sekarang semua memang serba kesetaraan gender. Bekerja tak melulu tugas suami. Pun persoalan mengatur keuangan rumah tangga yang tak lagi otoritas istri. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Seperti yang terjadi pada keluarga Karin, 35, dan Donwori, 42, ini. Sejak menikah, peran mereka memang terbalik. Karin yang pandai bekerja, sementara Donwori hanya menunggu di rumah. Mengelola keuangan yang dihasilkan Karin. Kisah kehidupan rumah tangga pasutri ini hingga berakhir, Karin jabarkan semuanya di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, kemarin.

Bisa dibilang, Karin merupakan perempuan multitasking. Selain bekerja sebagai tenaga medis di rumah sakit, ia juga menjalankan usaha lain di rumahnya. Jual beli snack kekinian. Dan jangan dianggap remeh, omzet yang ia dapat melebihi gajinya di rumah sakit. 

Lain Karin lain Donwori. Berbanding terbalik dengan Karin yang rajin bekerja, Donwori orangnya malas. Bahkan Donwori tak punya penghasilan tetap. Kerjaannya sehari-hari ya hanya di rumah. Mengelola jatah bulanan yang diberikan Karin. Mana yang harus digunakan untuk keperluan dapur, mana untuk anak dan mana untuk nabung, Donwori semua yang pegang. Bahkan, rekening tabungan dan segala printilannya, semua Karin pasrahkan pada suaminya. 

Sampai di sini, sebenarnya Radar Surabaya keheranan. Dari dulu sih keheranannya. Bagaimana seorang perempuan mau menikahi laki-laki pengangguran yang tak ada tanggung jawabnya pada anak istri. Namun lain orang kan lain pemikiran. Tapi lagi-lagi tetap heran, pasalnya kasus seperti ini banyak bangeeeet di pengadilan. Apa menikah cukup hanya mengandalkan cinta? "Dia mau sama saya saja aku bersyukur. Dia ganteng gitu mau sama aku yang biasa saja," curhat Karin, santai. Whaaat ? Ini kemakan cinta atau bagaimana ceritanya. Radar Surabaya hanya bisa geleng-geleng.

Mungkin takut-takut dibilang terlalu terlena dengan cinta, Karin buru-buru melanjutkan ceritanya. Tentu saja dengan klarifikasi. Katanya, tiga tahun lalu, suaminya ini pernah kecelakaan, yang menyebabkan dia opname lama. Nah dari sinilah, Donwori yang awalnya kerja jadi mandek. Karena lama mandek, dan terlihat tak ada niatan untuk kembali bekerja, akhirnya Karin memintanya untuk menjadi manager keuangannya. 

Lalu pertanyaannya, kalau Karin sendiri merasa legowo, kenapa dia minta cerai? Rupanya, Donwori ini berulah. Sudah enak-enakan di rumah, ia pakai uang karin untuk foya-foya. Bahkan dia juga tak sungkan untuk main perempuan. " Ya uangku laba jualan sama simpanan itu habis buat mbandani pacarnya," tegas Karin kejengkelan. 

Sikap kurang ajar Donwori ini juga tak ada habisnya. Rupanya, selain pandai menyisihkan uang, untuk "pacaran lagi" ia juga pandai bermain peran. Kepada Karin, Donwori ini berani berkali-kali melakukan kekerasan kalau sedikit saja istrinya menanyakan uangnya dipakai untuk apa saja. Tapi kalau di depan orang tua Karin, ia berpura-pura menjadi suami siaga penuh perhatian. Tutur katanya pun ia tata sedemikian rupa hingga membuat keluarga Karin percaya pada Donwori. "Macak melas lek nak ngarep wong tuwo, tapi aslie dia nggapleki," kata Karin penuh emosi.

Namun bukan itu yang membuat Karin minta cerai. Rupanya, masalah harta lah penyebabnya. Tanpa aba-aba, tanpa pamit tanpa izin, uang simpanan Karin yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit raib. Dibuat beli mobil oleh Donwori. Dari sini, Karin sudah tak bisa terima. Karin yakin, mobil itu ia jadikan alat menggaet perempuan. Berkendara ke sana ke mari dan tertawa, eh bukan. 

Padahal, kata ibu satu anak ini, uang itu sudah ia kumpulkan lama. Untuk tabungan pendidikan anak yang makin hari makin menggila harganya. Eh.. malah dicuri suami sendiri. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia