Minggu, 20 Jan 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Dendam pada Mertua setelah Diraupi Nasi

03 Januari 2019, 07: 41: 22 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Siapa pun mereka, jika diperlakukan semena-mena oleh orang lain, apalagi sampai melukai fisik, atau yang lebih ekstrim lagi, harga diri, pasti kecewa. Yang menjadi masalah, ada yang kecewanya dengan diam saja, namun ada juga yang sampai balas dendam. Kalau Donwori ini, 35, termasuk tipikal yang kedua.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya  

Rasa kecewa terhadap perlakuan mertualah yang menyebabkan hubungan rumah tangga Karin dan Donwori, retak.

Ceritanya panjang. Dimulai sejak keduanya menikah. Donwori merupakan mantu pilihan dari bapak Karin. Sayangnya, bukan untuk ibu Karin. Sejak awal, Donwori memang tidak pernah disukai oleh ibu Karin. Alasannya tak lain dan tak bukan gara-gara Donwori tidak kaya.

Dari ketidaksukaan ini, Donwori kerap diperlakukan semena-mena. Mulai dari tak pernah diajak bicara, dihina di depan mata, hingga didiskriminasi dalam setiap perlakuan di rumah. Dari awal hingga cucunya masuk kelas enam SD, perlakuan ibu Karin terhadap Donwori, tak berubah. Bahkan, imbas ketidaksukaan mertuanya juga dirasakan oleh anak Donwori.

“Aku mesakne sama anakku yang nomor dua, karena ibu selalu pilih kasih. Dia sayange cuma ke anak pertamaku,” kata Karin kepada Radar Surabaya, di ruang tunggu Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, beberapa hari sebelum pergantian tahun.

Ternyata sebelum menikah dengan Donwori, Karin ini sudah pernah menikah dengan pria kaya. Anak rekan kerja bapaknya. Namun hubungan pernikahannya harus kandas gara-gara si laki-laki suka KDRT.  Dari pernikahan itu, Karin punya anak satu. Ya yang sangat disayang oleh ibunya Karin itu.

Kembali ke Karin dan Donwori. Meski tak pernah disukai, Donwori ini tetap tinggal bersama mertuanya. Bahkan ketika si mertua tetap tak sudi sekadar bersalaman dengannya, walau hanya sekali setahun, di setiap Lebaran, ia tetap bertahan.  Namun sepertinya, pertahanan Donwori akhirnya jebol juga.

Hal itu bermula ketika Karin dan Donwori memutuskan untuk jalan malam bersama. Waktu itu, ia hanya membawa anak keduanya. Ya normalnya orang jalan-jalan, pasti mereka makan-makan.

Masalahnya ketika pulang, keduanya lupa membawa oleh-oleh untuk orang di rumah. Nah, rupanya hal kecil ini jadi masalah.

Pulang-pulang, tanpa aba-aba juga, Karin dan Donwori wajahnya diraupi (dilumuri) dengan nasi oleh ibu Karin sendiri.

Bayangkan saja, nasi yang keluar dari rice cooker panas-panas dan mendarat ke wajah, pasti sakit sekali. Namun sakitnya harga diri yang terlukai lebih sakit ketimbang panasnya nasi tadi.

Sembari menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh, Karin melanjutkan ceritanya. Setelah puas mencaci dan memaki, ibu Karin langsung mengusir keduanya keluar dari rumah.

“Waktu itu aku nangis sambil meluk suamiku, Mbak. Malam itu juga kita pindah cari kontrakan. Bahkan anak pertamaku yang lihat, gak tau apa-apa juga nangis,” kata Karin kemudian.

Setelah drama pengusiran itu, pindahlah Karin, Donwori dan anak keduanya ke rumah kontrakan. Tempatnya sangat sederhana dan jauh dari kata layak.

Awalnya, hubungan keluarga itu damai-damai saja. Namun seiring waktu, ada perubahan sikap yang ditampakkan oleh Donwori.

Semenjak tinggal di rumah baru, Donwori jadi suka marah-marah. Donwori yang awalnya lebih betah di rumah, jadi suka nongkrong malam-malam. Pulang-pulang pasti dalam keadaan mabuk. Bahkan, ia juga kerap melakukan tindak KDRT kepada Karin, setiap hari.

Awalnya, Karin masih maklum dengan perbuatan suaminya. Namun lama dibiarkan, tindakan Donwori ini makin anarkis. Hingga suatu saat, keduanya sepakat untuk bercerai.

“Dia terus terang sakit hati dengan perlakuan ibukku waktu lalu. Akhirnya kita cerai,” tukas Karin, yang sebenarnya mengaku masih cinta dengan Donwori.  (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia