Selasa, 26 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Surabaya
Perda HIV/AIDS Didok, Calon Pengantin Wajib Tes

NGERI! Jatim Peringkat 1, Surabaya-Malang-Jember Terbanyak ODHA

18 Desember 2018, 05: 10: 59 WIB | editor : Wijayanto

DISAHKAN: Gubernur Soekarwo menandatangani Perda Penanggulangan HIV/AIDS disaksikan Wakil Ketua DPRD Jatim Achmad Iskandar (tengah) dan Soenarjo (kana

DISAHKAN: Gubernur Soekarwo menandatangani Perda Penanggulangan HIV/AIDS disaksikan Wakil Ketua DPRD Jatim Achmad Iskandar (tengah) dan Soenarjo (kanan). (ISTIMEWA)

SURABAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur akhirnya mengesahkan rancangan peraturan daerah (Raperda) penanggulangan HIV/AIDS. Pengesahan Perda tersebut dilakukan saat rapat paripurna yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Jatim Achmad Iskandar didampingi Wakil Ketua DPRD Jatim yang lain, Soenarjo, Senin (17/12).

Gubernur Jatim Soekarwo mengatakan Perda Penanggulangan HIV/AIDS merupakan salah satu wujud kepedulian Pemprov Jatim dalam upaya melindungi dan melayani masyarakat, utamanya  untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS. “Dengan perda ini, tugas pemerintah semakin intensif dan sistematis dalam menanggulangi HIV/AIDS, seperti melakukan sosialisasi,” katanya usai rapat paripurna.

Pria yang akrab disapa Pakde Karwo ini berharap perda ini membawa dampak positif dan dapat dilaksanakan secara efektif. Sehingga keinginan bersama agar HIV/AIDS tidak menjadi ancaman dalam kehidupan, serta penyebarannya dapat diminimalisir.

“Kami berharap pengidap penyakit HIV/AIDS juga jangan diisolasi atau dipinggirkan dalam lingkungan masyarakat. Mereka adalah anggota masyarakat yang perlu dilindungi dengan berbagai pengobatan dan sebagainya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Kohar Hari Santoso mengakui jika Jatim memang pada peringkat tertinggi pengidap HIV/AIDS. Menurutnya, angka yang paling banyak penderitanya adalah Surabaya, Malang dan Jember.

Dari data yang dimiliki Dinas Kesehatan, Jatim termasuk lima provinsi dengan jumlah HIV tertinggi di Indonesia. Perkiraan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Jatim mencapai 67.658 orang. Berdasarkan laporan HIV triwulan II Kemenkes tahun 2018, jumlah pasien HIV di Jatim menduduki peringkat 1 di Indonesia.

“Dengan disahkan Perda Penanggulangan HIV/AIDS ini, kami akan intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Mereka yang mengidap HIV bisa tahu status penyakit yang dideritanya. Kami juga menghimbau para penderita HIV bisa rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV). Obat ini tujuannya bukan untuk menyembuhkan tapi bisa menekan jumah virus di tubuhnya agar tidak sampai pada stadium AIDS,” katanya.

Terpisah Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Suli Daim mengatakan, ada beberapa hal yang diperkuat dalam Perda Penanggulangan HIV/AIDS. Di antaranya, banyaknya jumlah bayi dan anak-anak yang terindikasi HIV/AIDS membuat Perda ini juga mengatur pernikahan.

“Dalam Perda kita ini mencoba melakukan pencegahan dini dengan pasangan yang akan melakukan pernikahan dengan memberikan konseling. Setelah itu mereka diberi pemahaman bersama untuk tes HIV/AIDS. Jika salah satu pasangan ada yang mengidap HIV/AIDS, maka keputusannya kita kembalikan lagi kepada mereka,” jelasnya. (mus/jay)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia