Selasa, 26 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Cinta Luntur Gara-Gara Suami Overprotektif

11 Desember 2018, 05: 00: 59 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Waswas pasangan diambil  orang itu wajar. Katanya sih itu tanda cinta. Namun, ya jangan berlebihan seperti Donwori, 33, ini. Mentang-mentang istrinya cantik, Donwori bertindak overprotektif yang akhirnya malah membuat Karin, 31, risih.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Suatu siang, setelah melaksanakan tugas 'negara' di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, Radar Surabaya langsung cabut. Bergegas untuk liputan ke tempat selanjutnya. Namun ketika sampai di parkiran, gangguan pun datang. Ada seorang bapak-bapak paro baya yang belakangan baru ketahuan kalau ia pengacara, menggoda.

“Sudah selesai urusan cerainya, Mbak? Kok cepet?,” kata pak pengacara yang hanya Radar Surabaya balas dengan senyum itu.

Ia pun bertanya lagi, “Cerai lapo, Mbak? Kayake sik enom, gak pengen ngobrol–ngobrol sek ta? Ayo jalan-jalan," lanjut si bapak pengacara, dengan mata genit.  Lagi-lagi, hanya Radar Surabaya balas dengan senyum keterpaksaan.

Tapi, ia tak mau menyerah. “Ayo dolen ke mana gitu, nanti bisa beli-beli apa,” katanya lagi.

Awalnya Radar Surabaya sudah gemas dalam hati ingin ngremus bapak-bapak mata keranjang ini. Tapi melihat si bapak itu sekilas, eh penampilannya rapi juga. Khas pengacara. Daripada bergegas dengan geregetan, apa salahnya dijadikan peluang untuk mencari bahan berita.

Radar Surabaya akhirnya mendatangi si pengacara itu.  “Bapak pengacara ya ? Tadi garap kasus cerai apa? Bagi dong,” tanya Radar Surabaya, menembak.

Setelah itu, ia pun baru sadar kalau lawan bicaranya wartawan. Dengan sedikit terpaksa dan karena memang dipaksa, ia pun lantas bercerita tentang kliennya yang baru saja mengurus cerai. Sebut saja namanya Karin dan Donwori. 

Ceritanya, Karin menggugat cerai Donwori gara-gara tak lagi tahan dengan kelakuan suaminya. Takut Karin selingkuh dan ditelikung orang lain, Donwori memaksa istrinya ini untuk berhenti bekerja. Alasannya konyol, gara-gara Donwori takut Karin selingkuh dengan teman sekantornya.

“Padahal Karin mengaku kalau itu cuma temen biasa, ngobrol basa-basi dengan teman sekantor kan wajar,” kata pak pengacara itu.

Yang menjadi masalah, Donwori cemburu buta. Bukan hanya meminta Karin untuk berhenti bekerja, ia juga sempat melabrak si rekan kerja Karin . Khawatir Karin ada main dengan pria lain. Sebelum itu, ia bahkan juga mengirimkan mata-mata yang merupakan rekan sekantor Karin untuk selalu memantau gerak-geriknya.

Dari situ saja, sebenarnya Karin sudah risih. Antara merasa terkekang, juga malu dengan teman-temannya. “Soalnya gak hanya sekali dua kali Donwori begitu. Pas ribut, selalu bilang kalau mau berubah, tapi nantinya juga diulang-lagi diulang lagi,” jelas bapak berkumis ini.

“Apa jangan-jangan Karin ini memang nakal ya, Pak, makanya dicurigai terus?“ tanya Radar Surabaya dan langsung disambar dengan jawaban tiba-tibanya. “Gak mungkin, gak ada celah. Wong ia pulang pergi aja dianter,” katanya lagi. 

Bukan, Donwori bukannya sosok suami perhatian yang takut istrinya kenapa-kenapa di jalan. Tapi, itu dilakukan lebih karena dengan mengantar, ia bisa memantau Karin di tempat kerja.

Si pak pengacara ini menjelaskan, hubungan pernikahan pasangan ini sudah lumayan lama meski tak sampai sepuluh tahun. Katanya, jalan perceraian hanyalah satu-satunya yang bisa ditempuh.

Katanya Karin sudah bosan, seperti dicintai tapi dikekang. Bukannya senang malah tertekan. Karin juga pesimistis kalau sikap suaminya ini akan berubah. “Ya ini sudah ngurus sidang keduanya. Mesakne Mbak areke, sik enom wis cerai, “ kata si pak pengacara lagi.

Tak puas dengan satu cerita, Radar Surabaya pun bertanya tentang kasus lain. Namun rupanya si bapak itu jual mahal dan tak mau menjawab. “ Wes mbak, gak ada lagi. Yang lain aku lupa, itu saja sudah cukup,” katanya lagi.

Karena lobbying gagal, akhirnya Radar Surabaya pamitan untuk pulang. Tentu saja setelah mendengar ceramah panjang lebar tentang bagaimana harusnya menjadi wartawan yang “ baik”. Tentu saja dalam  versinya. Katanya, wartawan itu harus garang, tidak boleh klemak-klemek. Baiklah, usulan diterima.

“Makasih ya Pak infonya. Ha...ha...ha ,”  kata Radar Surabaya seraya bergegas.

Dan langsung ia jawab, “ Ya.. ealaaah... wartawan ta tibake. kejebak aku iki mau.  Gak sido oleh kenalan,” serunya. Diikuti gelak tawa tukang parkir. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia