Sabtu, 23 Mar 2019
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Kunjungan Wisman ke Jatim Melonjak 33 Persen, tapi Hunian Hotel Turun

09 Desember 2018, 23: 13: 35 WIB | editor : Wijayanto

PERLU STRATEGI KHUSUS: Wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal pesiar saat sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

PERLU STRATEGI KHUSUS: Wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal pesiar saat sandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jatim sepanjang Januari-Oktober 2018 mencapai 266.217 kunjungan atau naik 33,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 199.598 kunjungan.

Sedangkan pada Oktober saja mencapai 25.845 kunjungan atau naik 26,45 persen dibandingkan Oktober 2017. Meski kunjungan meningkat, tetapi tingkat penggunian kamar (TPK) hotel di Jatim pada periode tersebut justru turun 2,96 poin dibandingkan September 2018, yakni hanya mampu mencapai 55,47 persen.

Menanggapi hal tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim mengusulkan tiga strategi agar kunjungan wisatawan asing (wisman) di Jatim dapat terus meningkat.

Tim Ahli Kadin Jatim Jamhadi mengatakan, meski kunjungan wisman di Jatim tahun ini meningkat dibanding tahun lalu, namun dari sisi tingkat keterisian hotel masih rendah.

"Kunjungan wisman di Jatim memang meningkat tetapi TPK hotel masih sekitar 60 persen. Padahal ada kota-kota tertentu yang punya pariwisata bagus seperti Pasuruan, Malang, daerah-daerah wisata lainnya," terangnya.

Menurutnya, strategi pertama untuk meningkatkan kunjungan wisman secara makro harus ada koordinasi antara penyelenggara perjalanan wisata dengan pemilik-pemilik hotel dan pihak penerbangan di Jatim.

"Misal Bandara Juanda bisa diperbanyak penerbangan langsung ke sini. Selama ini kan belum ada penerbangan langsung dari China ke sini. Jepang juga tidak ada. Tapi di Denpasar, semua negara ada penerbangan langsung. Nah, itu yang perlu dikuatin," jelasnya.

Strategi selanjutnya bekerja sama dengan provinsi lain, khususnya Yogyakarta dan Bali, melalui penyediaan paket wisata antara Bali-Surabaya-Jogjakarta.

"Nah, itu cara-cara yang harus ditempuh oleh para pelaku usaha di bidang tourism. Lalu strategi ketiga, dengan menggenjot usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih gesit," katanya.

Misalnya produk batik yang cara jualannya dibuat lebih merakyat seperti lesehan bersimpuh di hotel mewah. (cin/jay)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia