Rabu, 12 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Sidoarjo
Mulyono, Disabilitas Peduli Lingkungan

Meski Dicabuti Orang, Setiap Hari Tanam 10 Pohon

06 Desember 2018, 13: 15: 19 WIB | editor : Wijayanto

SEMANGAT: Mulyono siap berangkat untuk menghijaukan kawasan Krian.

SEMANGAT: Mulyono siap berangkat untuk menghijaukan kawasan Krian. (SILVESTER SILI TEKA/RADAR SIDOARJO)

Kekurangan fisik bukan halangan bagi Mulyono untuk berkiprah di masyarakat. Sejak delapan tahun lalu, pedagang sandal itu telah menanam ribuan pohon di wilayah Kecamatan Krian.

Silvester Sili Teka-Wartawan Radar Sidoarjo

BERBAGAI halangan dan tantangan telah dirasa kan Mulyono. Mulai dari tanaman-tanaman dirusak hingga tertabrak kendaraan. Namun, semangat nya untuk menghijaukan lingkungan tidak kendor. “Saya usahakan untuk menanam pohon setiap hari di seluruh Kecamatan Krian Sidoarjo. Itu saya lakukan sejak delapan tahun lalu,” katanya.

Yang menarik, Mulyono menggunakan uang pribadinya yang tidak seberapa banyak untuk penghijauan ini. Meski uangnya tak banyak, semangatnya patut dicontoh. Mulyono mencari sendiri bibit tanaman saat berbelanja barang dagangannya ke Kota Surabaya. Mulyono mengaku dalam sehari mampu menanam hingga 10 pohon. Tergantung kondisi cuaca dan kemampuan tubuhnya. “Nggak ada target. Saya usa hakan menanam di lahan kosong,” katanya.

Mulyono tak sekadar menanam saja. Setiap hari dia menyirami tanaman yang ditanamnya. Khususnya pada musim kemarau yang kering. Saat musim hujan ini, Mulyono lebih santai karena tanaman-tanamannya langsung diguyur air dari langit.

Mulyono juga terus mengajak warga Sidoarjo untuk berbuat lebih daripada dirinya. Cukup dengan menanam tanaman apa saja yang bermanfaat. Dengan begitu, Kota Delta menjadi lebih sejuk dan hijau. “Bayangkan kalau alam sekitar kita sangat gersang. Siapa pun akan gerah,” ujar pria yang mengalami cacat kaki akibat penyakit polio itu.

Setiap hari Mulyono bergerak dengan menggunakan sepeda motor matik bernopol W 8302 AF. Tidak seperti motor umumnya yang beroda dua, motor dengan bak belakang tersebut punya empat roda. Ada tempelan poster yang terpasang di sisi kanan motor. Tulisannya: Gerakan Krian Ijo, 1 Pohon=1 Nyawa.

Kendaraan modifikasi ini juga digunakan Mulyono untuk berdagang sandal di Pasar Krian. “Awalnya, saya mencari-cari ide, mau apa ya aku ini supaya bisa lebih bermanfaat hidup di dunia,” tutur Mulyono.

Pada 2008,  Mulyono sempat memilih hobi bersepeda motor keliling kota. Sepeda motor dengan empat roda sangat membantunya. Dua roda utama ditambah dua roda lagi di sisi kanan dan kiri sebagai penyangga.

Dengan begitu, Mulyono tidak perlu menopang bobot sepeda motor dengan kakinya yang memiliki kekurangan. “Saya jalani hobi touring selama dua tahun. Awalnya ya menyenangkan, tapi kok lama-lama rasanya jenuh lagi. Manfaatnya buat saya sendiri,” ungkap suami Triati itu.

Setelah merenung, Mulyono mulai menemukan ide brilian. Sebuah aktivitas yang tidak hanya membuat hatinya senang, tetapi juga membawa kemaslahatan untuk banyak orang.

Setiap melihat ada lahan yang gersang dan bisa ditanami, Mulyono segera menggali tanah dan menanam bibit pohon. “Saya sudah nggak ingat berapa total pohon yang saya tanam,” katanya.

Meski begitu, dia memastikan jumlahnya sudah mencapai ribuan. Meski harus berjalan terpincangpincang saat menanam pohon di wilayah Krian, Mulyono tidak mau menyerah. Bahkan, dia punya target yang dijalankan dengan penuh disiplin. Setiap hari menanam sepuluh bibit pohon.

Beberapa jenis pohon yang sering ditanam adalah sono, jaran-jaranan, dan waru. “Tiga tanaman itu paling kuat dibandingkan yang lain. Selain itu, saya bibitnya ngambil sana-sini, jadi ya seketemunya saja,” ucap ayah dua anak tersebut.

Mulyono mengaku tidak membeli bibit yang ditanam. Dia hanya mempersiapkan polybag untuk melakukan pembibitan sendiri. Mulyono rajin meminta ranting pohon dari rumah atau kantor yang ditumbuhi pohon tersebut.

Mulyono kadang juga mengambil ranting muda dari pohon lindung yang sudah tua. Bahkan, dia kerap kali menunggui petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat memangkas ranting pohon yang mengganggu kabel listrik. “Dari ranting-ranting nya itu, saya bibitkan lagi. Makanya, jenisnya bisa campur-campur,” ujarnya.

Dengan memanfaatkan bak belakang sepeda motor matiknya, Mulyono bisa bergerak lebih leluasa mengangkut bibit-bibit pohon itu menuju lokasi yang sudah dipilih. Perjuangan tersebut bukan hal mudah buat Mulyono.

Apalagi bila bibit pohon yang ditanam tiba-tiba menghilang. “Saya nelongso sekali kalau habis tak tanami besoknya hilang, entah dicabuti siapa. Kalau saya tahu, ya langsung tak tegur,” tuturnya.

Salah satu pengalaman pahitnya  terjadi di Jalan Raya Junwangi, Krian. “Berkali-kali saya tanami, tapi dicabuti terus,” tutur Mulyono dengan mata berkaca-kaca. (*/rek)

(sb/sil/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia