Rabu, 12 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Terdampak Gadget, Industri Mainan Jatim Merosot 20 Persen

05 Desember 2018, 16: 55: 13 WIB | editor : Wijayanto

PEMINAT MENURUN: Pengunjung melihat produk mainan saat pameran di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya.

PEMINAT MENURUN: Pengunjung melihat produk mainan saat pameran di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Sepanjang tahun ini, kian maraknya permainan-permainan melalui aplikasi smartphone dinilai memberikan dampak yang signifikan terhadap penjualan mainan anak-anak di tanah air.

Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia Jawa Timur (APMI Jatim) mencatatkan penurunan penjualan industri mainan hingga 20 persen akibat bergesernya tren permainan anak tersebut.

Ketua Bidang Mainan Kayu APMI Jatim Winata Riangsaputra mengakui, dengan adanya games anak kecil yang free download di gadget cukup menggerus industri mainan. Baik di dalam ataupun luar negeri.

Oleh karena itu, dalam dua tahun terakhir ini pihaknya gencar mengembangkan produk mainan yang mengkombinasikan antara fisik dan gadget.

"Supaya tidak tertinggal oleh teknologi yang kian canggih seperti sekarang. Contoh mainan fisik yang digabung dengan gadget adalah Smart Numbers," ujarnya di Surabaya, Selasa (4/12).

Games tersebut dapat dimainkan di tablet atau Ipad, tapi angka-angkanya dari kayu. "Trennya lumayan bagus meskipun belum menunjukkan pertumbuhan signifikan," tuturnya.

Meski demikian, Winata juga harus mengakui jika pengembangan permainan seperti itu tidaklah mudah. Sebab, masih banyak kendala yang dialami, mulai dari minimnya SDM Indonesia yang mumpuni di bidang tersebut hingga masalah biaya yang cukup tinggi untuk menciptakan mainan itu.

Di samping itu, kendala lain pada industri mainan saat ini adalah masih derasnya produk mainan impor yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurutnya, mayoritas mainan impor tersebut dijual secara online sehingga dapat beredar luas tanpa pengawasan.

"Rata-rata mainan impor yang tidak memenuhi SNI didatangkan dari Tiongkok dan pengawasan dari pemerintah masih tergolong longgar," tegasnya.

Winata menambahkan, pihaknya berharap kepada pemerintah untuk terus memperbaiki peraturan SNI di Tanah Air supaya bisa mengurangi peredaran importir abal-abal.

Selain itu, Winata juga menekankan agar pengawasan produk impor oleh stake holder terkait semakin intens dilakukan di daerah. Bukan hanya di kota-kota besar saja seperti Jakarta. Sehingga bisa menguntungkan semua pihak.

"Yang terpenting oknum-oknum yang memanfaatkan celah peraturan SNI harus diberikan tindakan pidana," jelasnya.

Sementara itu, sepanjang tahun ini kategori mainan yang berkontribusi besar terhadap penjualan adalah mainan bertema edukasi yang bertujuan mengembangkan motorik anak. Contohnya produk rocking horse dan ride on. Kontribusinya mencapai 40 persen.

Winata menambahkan, menjelang momen Natal dan tahun baru ini, pihaknya yakin akan ada peningkatan penjualan, sebab momen natal atau tahun baru akan banyak anak-anak yang meminta mainan sebagai kado.

"Nah di momen akhir tahun ini, kami prediksi permintaan mainan dapat terkerek sekitar 5 persen dibanding bulan biasanya," pungkasnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia