Rabu, 12 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Lifestyle Gresik

Cemas Tak Pegang Gadget, Awas Nomofobia

05 Desember 2018, 16: 18: 43 WIB | editor : Wijayanto

CUEK: Remaja ini, Bella Deswita, sedang asyik bermain gadget di jalan. Padahal, resikonya cukup tinggi, seperti kecelakaan hingga kejambret.

CUEK: Remaja ini, Bella Deswita, sedang asyik bermain gadget di jalan. Padahal, resikonya cukup tinggi, seperti kecelakaan hingga kejambret. (FAJAR YULI YANTO/RADAR GRESIK)

GRESIK - Budaya masyarakat sekarang tak bisa lepas dari gadget atau handphone (HP). Meski ada positifnya, namun tidak sedikit pula yang akhirnya mengalami sindrom nomofobia atau ketakutan tidak mempunyai telepon genggam. Yang paling berbahaya dampaknya, jumlah percecokan sering terjadi karena pasangan suami istri terlalu asyik bermain gadget.

Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit (RS) Semen Gresik dr Achmad Farid, Sp. KFR mengatakan baru kali pertama yang ditemukan yaitu tahun 2010 dengan penelitian di Britania Raya oleh YouGov. Yang meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam. “Untuk studi tersebut menemukan bahwa 58 persen pria dan 47 persen wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman,”jelasnya.

Dikarenakan kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai, pulsa, berada di luar jaringan dan 9 persen. Selebihnya merasa stress dan ketika telepon genggam mati.

Separuh di antara dari mereka mengatakan mereka gelisah karena tidak dapat berhubungan dengan teman atau keluarga bahkan jika mereka tidak menggunakan telepon genggam akan jenuh. Untuk itu, mereka harus bisa berbagi waktu dan cerita bersama keluarga.

“Tetap menjaga keharmonisan antar keluarga. Jangan komunikasi lewat media sosial seperti WA atau sebagainya kalau sudah di rumah. Jadi kalau menggunakan telepon genggan di husakan dengan sewajarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Panmud Pengadilan Agama Gresik mengatakan jumlah perceraian di Gresik makin meningkat dari ke tahun. “Jelang akhir tahun, angka perceraian sekitar 700 pasangan. Mayoritas ekonomi, namun waktu proses mediasi gara-gara handphone,” kata dia. Dikatakannya, gadget selain menggangu kesehatan, juga membuat komunikasi dengan keluarga terganggu. Di rumah, mereka masih sibuk dengan gadget baik membuat media sosial,membaca berita maupun asyik berkomunikasi dengan pihak lain. “Jadi keluarga renggang sehingga terjadi konflik hingga perceraian,” jelasnya. (jar/han)

(sb/jar/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia