Minggu, 16 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Surabaya

Lestarikan Tradisi dengan Tarian Topeng Muludan

26 November 2018, 23: 39: 33 WIB | editor : Wijayanto

TRADISI: Para penari yang mayoritas anak-anak menari Topeng Muludan di depan Balai Pemuda.

TRADISI: Para penari yang mayoritas anak-anak menari Topeng Muludan di depan Balai Pemuda. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA- Banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk merayakan maulid Nabi. Salah satunya adalah dengan menari. Seperti yang dilakukan oleh dua ratus penari dari tiga sanggar tari di Surabaya. Mereka dari sanggar Arboyo, Pandu Siwi dan Laboratorium Remo. Mereka kompak menarikan tarian topeng muludan di lapangan Balai Pemuda Surabaya, Minggu (25/11).

Meski datang dari tiga sanggar berbeda, mereka menari dengan kompak dan rancak. Yang menarik, para penari ini menari menggunakan topeng berbentuk wajah singa, yang menjadi ciri khas dari topeng muludan. Tarian topeng mulud ini gerakannya rancak, diiringi dengan alunan syair jawa berisi ajakan untuk merayakan maulid nabi dengan riang gembira.

Tarian topeng maulud sendiri merupakan tarian kontemporer. Penciptanya adalah Adelina Sulistyoningsih. Pemilik dari sanggar tari Arboyo ini menjelaskan, tarian ini dibuat beberapa tahun lalu untuk menyemarakkan festival topeng mulud yang diselenggarakan oleh Pemkot Surabaya.

Namun ia menyayangkan, festival yang digagas di tahun 2014 ini sudah mandek dua tahun yang lalu. “ Karena itu, kami memiliki inisiatif untuk menghidupkan lagi dengan cara yang sederhana dan meskipun diikuti oleh beberapa sanggar tari saja,” katanya.

Topeng maulud sendiri merupakan tradisi perayaan maulud Nabi Muhammad SAW di Surabaya yang sejak tahun 60-an. Dulu, ketika maulud, setiap anak pasti memiliki topeng untuk perayaan maulud. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari singa maupun superhero.

“Dulu zaman saya jika saat maulud tidak memiliki topeng ini, rasanya kurang afdol, dulu topeng ini banyak ditemui di genteng, sekarang tidak ada lagi,” paparnya.  Dengan perayaan ini, ia berharap anak-anak tahu tradisi di Surabaya yang sudah lama menghilang. (is/jay)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia