Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

Simpang Siur Perang 10 November Melebur di Pasak Sejarah Indonesia

22 November 2018, 17: 43: 53 WIB | editor : Wijayanto

BEDAH BUKU: Pengarang buku Pasak Sejarah Indonesia Kekinian, Johan Silas, saat menjawab pertanyaan pengunjung yang menghadiri acara bedah buku dan pameran foto di Ciputra World Surabaya, Rabu (21/11).

BEDAH BUKU: Pengarang buku Pasak Sejarah Indonesia Kekinian, Johan Silas, saat menjawab pertanyaan pengunjung yang menghadiri acara bedah buku dan pameran foto di Ciputra World Surabaya, Rabu (21/11). (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Profesor Johan Silas bersama Tim cagar Budaya Kota Surabaya  melalui Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan  buku , 'Pasak Sejarah Indonesia Kekinian'.  Buku setebal 130 halaman ini menceritakan secara detail runtutan peristiwa pecahnya perang 10 November 1945.

Menariknya, buku ini juga menjawab beberapa simpang siur tentang peristiwa 10 November.  Misalnya seperti kematian Jendral AWS Mallaby, apakah dia mati ditembak atau di bom. Memaparkan betapa arek  Suroboyo akan menang melawan jika saja perang itu tidak dihentikan oleh Sukarno kala itu dan beberapa sindiran kepada Belanda.

Metafora dari pasak yang dijadikan dalam sebuah judul, memiliki makna, bahwa dari peristiwa bersejarah 10 November itulah, Indonesia ada. Peristiwa di Surabaya adalah pasak dari Sejarah Kemerdekaan Indonesia. “Pasak kan sesuatu yang kecil, namun rumah adat sebagus apapun, akan hancur kalau tidak ada pasak, itulah yang menggambarkan sejarah peristiwa 10 November, meski ia hanya sebagian kecil dari sejarah di Indonesia yang luas, tanpanya, tidak adasejarah Indonesia merdeka,” paparnya, ditemui seusai bedah buku di Ciputra World Surabaya, Rabu(21/11).

Dalam bedah bukunya, ahli tata kota ini mengatakan, buku ini meleburkan egosentris masing-masing penulis dalam mengupas sejarah. Ia katakan, selama ini, ada banyak sumber yang menceritakan sejarah  dengan versinya masing-masing. Tak jarang, mereka saling menyalahkan penulis lain jika cerita yang dibuat bersimpangan dengan versi mereka, mengunggulkan masing-masing tokoh yang ditulis.

Lain dengan buku ini, ia menjelaskan, butuh waktu lima tahun dalam menyusun buku ini, dari riset hingga penyusunan. Setiap peristiwa, ia setidaknya mencari tiga sumber yang serupa sebagai referensi. “Jadi saya tidak berani (mengutip,Red) kalau tidak ada tiga buku sumber,(yang membahas hal yang sama, Red)," paparnya.

Buku ini ditulis bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, utamanya para pegawai pemerintahan, agar jika ditanya, masing-masing mengerti sejarah peristiwa 10 November. Buku ini juga akan di distribusikan kepada seluruh perpustakaan sekolah di Surabaya, baik negeri maupun swasta sebagai bahan referensi.

Ia mengatakan, cetakan pertama ini belum dibuat sempurna. Ia menunggu khalayak masyarakat untuk merevie dan merevisi jika ada informasi yang perlu ditambahkan. Dan nantinya, akan disempurnakan di cetakan ke dua. Selain diterbitkan cetak, buku ini juga bisa diunduh secara online di website pemerintah kota Surabaya.

Selain bedah buku, acara kemarin juga diisi dengan pameran fotografi napak tilas sejarah Surabaya karya finalis lomba fotografi tahunan yang diselenggarakan oleh pemkot Surabaya. (is/nug)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia