Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya

Tiga Kali Tipu Ojol, Pengusaha Onlineshop Dibui

19 November 2018, 17: 23: 18 WIB | editor : Wijayanto

INGIN LARIS: Cristhoper Allan beserta produk dagangannya yang dijadikan barang bukti penipuan.

INGIN LARIS: Cristhoper Allan beserta produk dagangannya yang dijadikan barang bukti penipuan. (YUAN ABADI/RADAR SURABAYA)

SURABAYA -  Cristhoper Allan,34,  kini berurusan dengan polisi. Pria yang tinggal di Jalan Wiguna Selatan 3/34, Surabaya ini sengaja menipu tukang ojek online (ojol) dengan order fiktif.  Modusnya, Cristhoper melakukan order pembelian barang dagangannya di online shop. 

Dia menggunakan alamat pengorder palsu. Penangkapan tersangka berdasarkan dari laporan korban tukang ojol Sutiono,38, warga Jalan Lidah Kulon RT 05 RW 05, Surabaya. Pelaku ditangkap di Jalan Wisma Lidah Kulon Raya tepatnya di depan sebuah minimarket.

Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Bima Sakti mengatakan modus penipuan yang dilakukan Allan memang cukup unik. Pertama dia membuat akun dari aplikasi ojek online (ojol) dengan nama dan alamat palsu. Kemudian dari aplikasi itu, dia mengorder barang berupa sembilan buah dompet senilai Rp 1 juta.

“Padahal yang dioder tersebut adalah barangnya sendiri yang dijual di rumahnya di Jalan Wiguna Selatan,” ungkap Iptu Bima, Minggu (18/11).

Mendapat order tersebut korban Sutiono mendatangi rumah tersangka untuk membeli pesanan tersangka yang menggunakan akun dengan alamat palsu itu. Setelah itu, korban melakukan transaksi membeli dompet-dompet tersebut. Saat hendak diantarkan ke rumah pengorder, rupanya alamat itu palsu. Tak hanya itu, nama yang dicantumkan di akun tersebut palsu.

“Korban pun bingung harus mengantarkan barang tersebut kemana. Padahal ia sudah membeli dompet tersebut. Sadar menjadi korban penipuan, korban melaporkan kasus ini” ujarnya.

Setelah dilakukan penyelidikan, polisi pun meringkus Allan. Dari pengakuannya modus yang sama sudah ia lakukan selama tiga kali. Nilai transaksi dompet yang diorder tersebut berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Agar tak ketahuan, dia membeli dua HP dan beberapa nomor. Tujuannya pengusaha online shop ini untuk membuat akun dengan alamat dan nama palsu.

“Korban mengaku jika hal itu ia lakukan agar barangnya cepat laku dan memperoleh keuntungan. Selain itu, dari modus yang ia lakukan ia berharap mendapat bonus dari distributor barang yang ia jual,” pungkas Bima. (yua/rtn)

(sb/yua/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia