Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Nekad Nikah Gara-Gara Ditanya Kapan Kawin

17 November 2018, 13: 37: 30 WIB | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Demi kemaslahatan bersama, sebaiknya kurang-kurangin deh pertanyaan kepo semacam "Kapan nikah?". Sungguh, bagi orang yang urusan asmaranya tak semulus jalan tol, pertanyaan seperti itu sangat mengganggu. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Sangat disayangkan kalimat Ketua PSSI Edy Rahmayadi viralnya baru belakangan ini. Karena sesungguhnya jawabannya pada pertanyaan yang (sebenarnya tidak) menyudutkan seperti  "Apa urusan Anda menanyakan ini?" atau "Apa hak Anda bertanya kepada saya?" mengilhami banyak jomblo untuk ngeles ketika ditanya kapan nikah. 

Jawaban itu bak skak mat bagi orang-orang kepo di luar sana. Tapi sayang beribu sayang, ketika Karin, 38, dihujani ribuan pertanyaan itu, ia belum kenal Edy Rahmayadi. Benar, usia Karin memang tak lagi muda untuk tetap hidup melajang di negara yang culture-nya berorientasi keluarga ini. Tapi sebenarnya, Karin mengaku enjoi  dengan kesendiriannya. Tapi tidak dengan keluarganya. 

Apalagi keluarga besar Karin. Mereka yang awalnya terus nyinyir dengan status Karin mulai kelabakan mencarikan calon suami. Laki-laki lintas umur dan pekerjaan pun ditawarkan, berharap ada yang memikat hatinnya. "Banyangin Mbak, sejak usia 20 mereka tanya terus kapan nikah, kapan nikah. Sampek panas kupingku," sergah Karin. 

Yang menjadi pertanyaan, kalau Karin masih melajang, apa urusannya ke Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya? Kalau mau mengantar keluarga pun sepertinya tidak, wong dia terlihat sendirian saja. Dan jawabannya ketemu seiring pengakuan Karin kemudian. "Aku mau gugat cerai suami," katanya singkat. 

Perempuan asal Manukan ini pun menjelaskan, usia pernikahannya kandas setelah tiga bulan berjalan. Katanya sih karena tak cocok. 

Rupanya, beberapa bulan lalu, karena grisihen (risih, Red) ditanya-tanya kapan nikah, Karin akhirnya menantang keluarganya untuk menikahkannya dengan siapa pun. Saat itu dia sudah berpikiran jahat.

"Pertanyaannya cuma kapan nikah kan? Oke aku nikah, tapi sehari menikah aku akan minta cerai," ungkap Karin mengulang dialog yang ia lontarkan sendiri dalam hati. 

Akhirnya, menikahlah Karin. Dengan laki-laki pilihan orang tua yang tak ia kenal. Karena masih memikirkan perasaan keluarga, keinginan Karin untuk segera berpisah itu ia urungkan.

Namun rupanya itu tak berlangsung lama. Keinginannya bercerai makin memuncak karena sifatnya dan sifat suami, Donwori, 30, tak cocok. Selama waktu bersama itu, baik Karin dan Donwori juga hanya saling diam. Bahkan kebiasaan Donwori setiap hari membuatnya tak nyaman. 

Donwori, kata Karin, orangnya sangat sembrono dan jorok. Misalnya, setelah mandi handuk dibiarkan di atas kasur. Habis makan, piring tak dicuci. Asap rokok bertebaran di mana-mana. Ambil barang tak dikembalikan pada tempatnya. Seluruh kebiasaan buruk inilah yang membuat pasutri ini memiliki aktifitas baru selain diam-diaman, yakni berantem gara-gara hal printilan itu. 

"Makanya aku betah sendiri, karena yakin gak ada laki-laki yang bisa ngimbangin aku yang perfeksionis ini," jelas perempuan yang mengaku bekerja sebagai freelancer ini. Entah freelancer apa juga. Jangan terlalu kepo, takut kena skak mat.

Dan begitulah akhir kehidupan rumah tangga Karin. Karena sejak awal tak mendambakan pernikahan, Karin juga enjoi saja ketika mau cerai. Tanpa sedih tanpa galau.

"Aku bisa saja kalau ingin punya anak tanpa nikah. Tapi kan di Indonesia yang kayak gitu jarang. Pasti juga jadi omongan," pungkas Karin santai. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia