Sabtu, 15 Dec 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Serda Mar M Khirom, Atlet dan Pelatih Taekwondo

Sebarkan Perdamaian Lewat Olahraga

14 November 2018, 23: 19: 45 WIB | editor : Wijayanto

MEMBAUR: Serda Marinir Muhammad Khirom bersama anak-anak di Kota Bangui, Republik Afrika Tengah.

MEMBAUR: Serda Marinir Muhammad Khirom bersama anak-anak di Kota Bangui, Republik Afrika Tengah. (ISTIMEWA)

Di sela kesibukannya sebagai anggota TNI Angkatan Laut, Serda Marinir Muhammad Khirom, 42, masih meluangkan waktunya untuk melatih taekwondo. Pria asli Sidoarjo itu juga memperkenalkan olahraga taekwondo kepada anak-anak di Afrika Tengah.

Silvester Sili Teka-Wartawan Radar Sidoarjo

"BANG Khirom! Bang Khirom!" sorak warga Kota Bangui, Republik Afrika Tengah, saat pasukan perdamaian Indonesia melewati salah satu pasar di daerah konflik tersebut. Teriakan tersebut ternyata ditujukan kepada Serda Marinir Muhammad Khirom, anggota pasukan perdamaian Garuda 37-A yang bertugas di Republik Afrika Tengah pada 2014 lalu.

Pria yang juga taekwondoin berprestasi kelahiran Kampung Pekauman, Sidoarjo, itu memberikan kesan mendalam bagi warga, khususnya anak-anak muda di Bangui. Bertugas di daerah konflik, dia melihat anak-anak muda Afrika sepertinya tidak punya masa depan. Hati peraih medali emas PON XV ini tergerak untuk mengajak kaum muda berlatih taekwondo.

"Anak muda di sana tidak pernah berolahraga. Bahkan, asupan makanan mereka tidak bergizi dan seadanya. Maka, saya ajak mereka belajar taekwondo agar sehat jasmaninya," papar mantan pelatih Puslatda Jawa Timur tersebut.

Sebagai penyandang sabuk hitam taekwondo dengan sederet prestasi tak membuatnya kesulitan untuk mendisiplinkan anak muda Bangui untuk berlatih. Tak disangka, anak-anak muda tersebut menjadi sangat antusias berlatih taekwondo. Jumlah anak yang berlatih mencapai 100 orang. Mulai dari anak kecil hingga remaja laki-laki dan perempuan.

Mengemban misi perdamaian, tak lupa Khirom sisipkan pesan-pesan perdamaian di sela latihan. "Kita kasih tahu mereka kalau permusuhan dan perang itu tidak baik. Kita harus memiliki kasih sayang kepada melihat latar belakang agama, ras, etnis, dan sebagainya. Dengan taekwondo, kita bergaul secara baik," ujar ayah dua anak itu.

Sportivitas dan etika merupakan nilai utama yang dia tekankan dalam mengajar bela diri asal Korea Selatan tersebut. Sebagai salah seorang staf humas pasukan Indonesia, Khirom memang harus berinteraksi dan bersahabat dengan masyarakat setempat. Beberapa kata dalam bahasa Sango (bahasa Afrika Tengah) berhasil ia kuasai dalam waktu singkat.

Kedekatannya dengan warga membuat Khirom lebih dikenal daripada prajurit lainnya. Karena keterampilannya tersebut, dia berhasil mendapatkan penghargaan CIMIC (Civil Military Cooperation) dari PBB saat bertugas di Haiti.

Sepulangnya ke Indonesia, pada 2017, mantan ketua Pengcab Taekwondo Surabaya itu kembali mendapat piagam penghargaan Museum Rekor dunia Taekwondo Indonesia sebagai taekwondoin pertama dan prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB yang melatih   taekwondo di Republik Afrika Tengah selama dua bulan.

Selain mengajar taekwondo, Khirom juga menghibur anak-anak dengan cara-cara unik. Sewaktu perayaan Natal di Haiti, dia memamerkan aksi sulap agar anak-anak terhibur dan terhindar dari suasana konflik.

"Permainan sulap sekadar untuk mengundang gelak tawa anak-anak agar melupakan trauma mereka akibat perang," jelas suami Indah tersebut yang dikenal humoris.

Pribadinya sekarang ini juga tidak lepas dari olahraga bela diri taekwondo yang ia tekuni sejak berusia 13 tahun. Ketekunannya berlatih membuat Khirom berhasil meraih juara dalam berbaga

kompetisi di Jawa Timur. Melalui prestasi tersebut, Khirom juga dipercaya untuk menjadi pelatih anggota Marinir di Surabaya pada 1995-1996. Tak lama kemudian, prestasi gemilang mengantarnya menjadi anggota Marinir.

Mengemban tanggung jawab sebagai anggota TNI AL, atlet terbaik PON XV/2000 di Surabaya dan Sidoarjo ini diberi mandat untuk menjadi pasukan perdamaian yang bertugas di Haiti dan Republik Afrika Tengah pada 2013-2015. Saat ini dia bertugas di Batalyon Zeni 2 Marinir Kompi Zipur B Karangpilang, Surabaya. Di usia yang menginjak 42 tahun, dia tetap berkiprah di taekwondo sebagai pelatih. (rek)

(sb/son/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia