Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Hukum & Kriminal Surabaya
Insiden Drama Kolosal Surabaya Membara

Panitia Penyelenggara Tak Koordinasi dengan PT KAI

Sabtu, 10 Nov 2018 00:47 | editor : Wijayanto

TAK MENYANGKA: Ketua Panitia drama kolosal Surabaya Membara, M Taufik Hidayat alias Taufik Monyong.

TAK MENYANGKA: Ketua Panitia drama kolosal Surabaya Membara, M Taufik Hidayat alias Taufik Monyong. (GINANJAR/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Ketua Panitia Drama Kolosal Surabaya Membara, M Taufik Hidayat alias Taufik Monyong mengakui jika insiden kecelakaan yang menewaskan penonton dan belasan lainnya luka baru tahun ini terjadi. Menurut senyiman nyentrik ini, selama gelaran Surabaya Membara mulai tahun 2011 hingga 2018, baru tahun ini terjadi insiden.

Menurut Taufik, tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada kereta yang lewat saat pementasan berlangsung di sisi timur Tugu Pahlawan depan Kantor Gubernur Jatim di Jalan Pahlawan.

"Dulu tidak ada kereta lewat. Sampai acara selesai pun kereta tidak lewat. Tapi ini kok ada kereta lewat, saya belum tahu juga apakah ada perubahan jadwal kereta," kata Taufik Monyong, Jumat malam (9/11).

Mengenai insiden tersebut, Taufik tidak menyangka bakal terjadi hingga menyebabkan korban jiwa. Menurutnya, pelaksanaan acara juga sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti PMK, kepolisian, Satpol PP, dan masih banyak lainnya.

Taufik mengaku pihaknya memutuskan tetap melanjutkan acara meskipun terjadi insiden penonton jatuh dan terlindas kereta api semata karena banyak peserta dari luar kota yang rela berlatih hingga berminggu-minggu.

"Saya kasihan dengan rekan-rekan yang sudah rela berlatih agar acara ini maksimal. Karena mereka sangat totalitas berlatihnya. Tadi awalnya berlangsung 60 menit, tapi ini sudah kami potong 20 menit acaranya," tuturnya.

Sementara itu, Humas PT Kereta Api Daop 8 Surabaya Gatut Sutiyatmoko menegaskan jika panitia telah lalai. Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak mendapat surat konfirmasi atau pemberitahuan apapun dari pihak penyelenggara terkait acara Drama Kolosal Surabaya Membara.

"Itu kelalaian panitia penyelenggara, karena tidak ada koordinasi dengan KAI dan tidak ada himbauan atau larangan untuk tidak menonton di jembatan viaduk KA," ungkap Gatut saat dikonfirmasi Radar Surabaya, Jumat (9/11).

Gatut menjelaskan, sesuai ketentuan dalam Pasal 181 ayat (1) UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api, menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur
kereta api, atau menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain selain untuk angkutan kereta api.

Tak hanya itu, Gatut juga mamaparkan bahwa jalur kereta atau viaduk yang menjadi lokasi kecelakaan tersebut merupakan rel kereta aktif yang setiap hari dilalui oleh kereta baik penumpang maupun barang,

"Jalur KA tersebut aktif. Setiap hari dilewati KA penumpang dan barang. Sangat berbahaya bermain di jalur KA apalagi di jembatan viaduk itu, karena KA tidak dapat mengerem mendadak," urainya.

Pada saat kereta lewat viaduk Jalan Pahlawan, Jumat malam (9/11) saat kejadian, ia mengungkap bahwa KA KRD tujuan Sidoarjo-Bojonegoro itu berjalan perlahan hanya sekitar 30 km/jam karena hendak memasuki stasiun. KA juga sempat membunyikan Semboyan 35 atau seruling lokomotif.

Gatut menjelaskan bahwa kecepatan kereta saat melintas dengan kecepatan normal itu sudah sesuai dengan prosedur keamanan perjalanan kereta api. (gin/jay)

(sb/gin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia