Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Surabaya

412 Desa di Jatim Masuk Daerah Rawan Bencana

BPBD Siapkan Tas Siaga Bencana

Jumat, 09 Nov 2018 18:23 | editor : Wijayanto

SIAGA: Kepala BPBD Jatim Suban Wahyudiono (insert) dan kondisi bencana banjir di Malang beberapa waktu lalu.

SIAGA: Kepala BPBD Jatim Suban Wahyudiono (insert) dan kondisi bencana banjir di Malang beberapa waktu lalu. (MUS PURMADANI/RADAR SURABAYA)

SURABAYA - Sebanyak 412 desa di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana. Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mengimbau warga untuk waspada.

Kepala BPBD Jatim Suban Wahyudiono mengatakan, berdasarkan data BNBP ada 12 ancaman bencana di Jatim. Sebelas merupakan bencana alam dan satu bencana non alam.

"Saat ini memang sudah masuk musim hujan, tapi berdasarkan data BMKG Juanda puncaknya bulan Januari-Februari 2019 mendatang," jelasnya kepada Radar Surabaya, Jumat (9/11).

Menurutnya, di Jawa Timur ada 22 kabupaten yang rawan banjir akibat wilayahnya dilalui sungai. Yang harus diwaspadai adalah Bengawan Solo, Sungai Welang Rejoso Probolinggo dan Sungai Pekalen Situbondo.

“Tiap tahun kawasan ini langganan banjir. Karena pengaruh rob yang menggenang agak lama,” kata Suban.

Sedangkan untuk ancaman bencana longsor, lanjut dia, ada 13 kabupaten. Umumnya daerah yang memiliki pegunungan. “Kita sudah melakukan rapat koordinasi untuk kesiapsiagaan jika terjadi bencana,” ujarnya.

Selain itu, Suban mengaku pihaknya juga menginventaris peralatan penanggulangan bencana seperti tenda, perahu karet, dan radio komunikasi. “Kita juga sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum menghadapi bencana,” katanya.

Suban menambahkan pihaknya berdasarkan instruksi Gubernur telah menyiapkan tas siaga. Menurutnya, tas siaga ini program tahun 2019 untuk masyarakat untuk menyimpan surat-surat berharga.

“Kita juga menyiapkan early warning system. Jadi ada tanda sebelum terjadi bencana. Alat ini sudah kita pasang di daerah yang rawan bencana. Bahkan kita juga siapkan desa tangguh bencana yang masyarakatnya memiliki peran masing-masing jika terjadi bencana,” jelasnya.

Saat ditanya apakah intensitas bencana di Jawa Timur ini meningkat, Suban mengatakan tidak ada ilmu yang bisa menentukan bencana. “Kami hanya bisa mengurangi risiko yang disebabkan oleh bencana,” pungkasnya. (mus/jay)

(sb/mus/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia