Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Ekonomi Surabaya

Ini Cara Dongkrak Okupansi Hotel lewat MICE

Rabu, 07 Nov 2018 16:01 | editor : Wijayanto

SEGMEN KHUSUS: Resepsionis melayani tamu di salah satu hotel di Surabaya. Kegiatan MICE mampu mendorong peningkatan okupansi hotel di Surabaya.

SEGMEN KHUSUS: Resepsionis melayani tamu di salah satu hotel di Surabaya. Kegiatan MICE mampu mendorong peningkatan okupansi hotel di Surabaya. (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

SURABAYA – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur memprediksi tingkat okupansi hotel akan terus meningkat hingga akhir tahun. Hal ini didorong dengan adanya gelaran acara atau event-event yang diselenggarakan oleh corporate (perusahaan, Red) maupun government (pemerintahan, Red). Kegiatan meeting, incentives, conferences, and exhibitions (MICE) akan jadi pendongkrak utama okupansi hotel di Surabaya. Apalagi menjelang momen Natal dan tahun baru yang diklaim akan mengerek angka tingkat okupansi tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua PHRI Jatim Herry Siswanto menyebut, untuk posisi okupansi bulan Oktober berada di angka sekitar 59-60 persen untuk tingkat hunian. Sedangkan untuk bulan November-Desember, Herry memprediksi akan banyak kegiatan dari corporate maupun government, sehingga secara otomatis tingkat hunian akan meningkat hingga 60-63 persen.

“Jika dilihat dari yang lalu-lalu diprediksi bisa mencapai 60-65 persen,” terangnya kepada Radar Surabaya, Selasa (6/11).

Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan di moment Natal dan tahun baru, menurut Herry hal itu tergantung dari hotel masing-masing. “Memang selalu ada, kegiatan seperti gala dinner, tapi tidak semua hotel yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. Biasanya hotel bintang empat atau bintang lima, itupun tergantung juga tidak semua,” ujarnya.

Khususnya untuk hotel-hotel yang berada di daerah perkotaan seperti Surabaya. Sementara, untuk hotel-hotel di daerah pariwisata seperti Batu, Malang, dan Banyuwangi, secara otomatis tingkat huniannya akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan hotel-hotel di daerah perkotaan saat moment Natal dan tahun baru. 

Herry menuturkan, hal ini dikarenakan pada saat tahun baru, di perkotaan tingkat hunian kamar cenderung sepi. “Mungkin di angka sekitar 50 persen saja. Kalau di daerah pariwisata tingkat huniannya bisa mencapai 80 persen,” imbuhnya.

Sehingga, okupansi hotel di daerah perkotaan cenderung didorong dengan adanya kegiatan MICE. Menurut Herry, MICE membawa dampak yang luar biasa, karena dengan kondisi banyaknya event di Surabaya ini, akan memberikan peningkatan baik itu dari domestik maupun mancanegara.

“Kontribusi MICE sendiri mencapai 20 persen, kemudian diikuti oleh food and beverage (F&B), karena itu mengikuti tingkat hunian itu sendiri,” tuturnya.

Sementara, berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jatim pada bulan September 2018 mencapai 58,43 persen atau naik sebesar 0,76 poin dibandingkan bulan sebelumnya. TPK hotel bintang empat sebesar 63,47 persen yang merupakan TPK tertinggi dibandingkan TPK hotel berbintang lainnya.

“TPK merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat produktivitas usaha jasa akomodasi. Jika TPK besar dan cenderung mendekati 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar akomodasi laku terjual,” imbuhnya. (cin/nur)

(sb/cin/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia