Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Features Sidoarjo
Warga Sidoarjo Ikut jajal Bus Tingkat

Bisa Jadi Alternatif ke Tempat Wisata

Selasa, 06 Nov 2018 16:01 | editor : Wijayanto

GRATIS: Bus double decker yang mangkal di Terminal Purabaya.

GRATIS: Bus double decker yang mangkal di Terminal Purabaya. (SILVESTER SILI TEKA/RADAR SIDOARJO)

Tidak hanya warga Kota Surabaya yang antusias menikmati bus tingkat di Terminal Purabaya, Desa Bungurasih, Kecamatan Waru. Setiap hari masyarakat Sidoarjo juga ikut menjajal bus unik tersebut.

Silvester – Wartawan Radar Sidoarjo

SALAH satu petugas Dinas Perhubungan Kota Surabaya Feri mengatakan, bus tingkat ini  terbuka bagi seluruh warga. Termasuk warga dari daerah lain di Jawa Timur. Semua orang berhak menikmati bus bersusun tersebut. “Banyak juga warga Kabupaten Sidoarjo yang naik bus ini,” kata Feri kemarin.

Banyak orang yang ingin mencoba menaiki bus ini karena masih tergolong baru di Jawa Timur. Maklum, sejak awal 1990-an tidak ada lagi armada bus tumpuk atau double deck yang beroperasi di Jawa Timur. Karena itu, kehadiran kembali bus tingkat pada September 2018 lalu mengundang rasa penasaran sebagian masyarakat.

Selain memudahkan bagi masyarakat untuk keliling Kota Surabaya, para penumpang cukup membayar dengan sampah botol plastik. Rute bus tingkat ini mulai dari Terminal Purabaya lalu berhenti di beberapa halte di Surabaya. Kemudian menuju ke Tugu Pahlawan dan kemudian lagi ke Terminal Purabaya di Bungurasih.

Warga masih antusias terhadap bus tingkat yang sudah beroperasi selama sebulan lebih itu. Ini dibuktikan dengan jumlah penumpang yang mencapai 2.000 orang per harinya. “Yang naik pasti tidak hanya warga Surabaya, tetapi juga warga Sidoarjo, Gresik, Malang, dan sebagainya. Ada yang berlibur atau bekerja di Surabaya,” ungkap Feri.

Penumpang bus tingkat ini terdiri dari orang dewasa, pelajar, dan anak-anak. Sekolah-sekolah juga kerap menjadikan bus tingkat ini sebagai bagian dari tur studi bagi peserta didik. “Semoga bus tingkat  ini dapat mempermudah transportasi seluruh warga Surabaya dan sekitarnya,” kata Feri.

Kuswadi, pensiunan karyawan Perum Damri, mengatakan, keberadaan bus tingkat sejatinya bukan hal baru di Surabaya dan Sidoarjo. Sekitar 1985 Perum Damri mendatangkan 20 unit bus tingkat dari pabrikan Leyland Motors. Seri double-deck. Rutenya dari Waru hingga Tugu Pahlawan. Terminalnya terletak di sebelah SPBU, dekat Aloha, Gedangan, sekarang.

Bus-bus itu kemudian akrab dipanggil bus tumpuk oleh masyarakat. Desain bus ala Eropa tersebut kemudian hari menimbulkan beberapa masalah kecil. Ia terlalu tinggi dan sekaligus terlalu rendah untuk Surabaya.

Seingat Kuswadi, jarak sasis dengan tanah kurang dari setengah meter. Sangat ramah terhadap kaki penumpang, terutama yang berusia lanjut. Namun, kesulitan kalau lewat jalan yang tidak merata. Atapnya terlalu tinggi juga.

Keluar dari Tanjung Perak, beberapa orang harus menaikkan kabel listrik PLN yang melintang di tengah jalan dengan sebatang galah. Baru bus bisa lewat. "Tapi, ketika bus ini beroperasi, kabel-kabel PLN sudah tinggi semua kok," tuturnya.

Bus tumpuk segera menjadi primadona warga kota. Anak-anak kecil berebut menaikinya. Terutama saat berangkat dan pulang sekolah. "Saat itu sepeda motor dan kendaraan pribadi tidak sebanyak sekarang. Makanya, bus-bus selalu penuh," kata Kuswadi.

Bambang Hartono, warga Sawotratap, Gedangan, mengusulkan agar Pemkab Sidoarjo juga mendatangkan dua atau tiga unit bus tingkat. Bus double-deck itu bisa dijadikan moda transportasi para wisatawan ke berbagai tempat wisata di Kabupaten Sidoarjo. "Misalnya, city tour dari kawasan Waru, wisata lumpur, Candi Pari, hingga ke Intako di Tanggulangin," katanya. (sil/rek)

(sb/sil/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia