Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Tak Tahan Punya Suami Surveyor, Nafkah Batin Minta, Nafkah Lahir Seret

Senin, 05 Nov 2018 16:15 | editor : Wijayanto

ISTIMEWA

ISTIMEWA (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Masalah ekonomi menjadi penyebab utama perempuan mengajukan gugatan. Kata seorang pengacara, kasus seperti ini biasanya diajukan oleh ibu rumah tangga tulen  yang hanya mengandalkan pemasukan dari suami. Pemicunya  suami tidak bertanggung jawab menafkahi.  

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Salah satunya ya terjadi pada perempuan muda usia 26 tahun bernama Karin. Ia menggugat cerai, Donwori, 27, suaminya, karena sudah habis kesabaran. Ya masa, dua tahun menikah tidak pernah memberikan nafkah lahir. “Cuma ngasih nafkah batin saja ya kecut Mbak,” celetuk Karin saat berada di kantor pengacara dekat Pengadilan Agama(PA) Klas 1A Surabaya.

Perempuan asal Pucang Anom ini bercerita, dulu, ketika pacaran, suaminya tidak semalas sekarang. Wong keduanya ketemu gara-gara sama-sama satu kerjaan di sebuah rumah makan kok. Namun herannya, setelah menikah, semangat Donwori untuk bekerja pasang surut. Banyak surutnya sih ketimbang pasangnya.

Karin mengatakan, Donwori ini bukannya tidak memberinya nafkah sama sekali. Namun ia memberi hanya pas ada. Padahal, dia banyak tidak adanya ketimbang ada. Lha gimana ya. Ia hanya pekerja serabutan yang kerjanya nunggu panggilan. “Masa aku harus hidup  menggantungkan diri dari gaji tenaga survei lapangan yang ramainya hanya pada musim coblosan itu,” kata Karin, kesal.

Benar sih, gaji seorang surveyor ada yang lumayan juga. Namun tetap saja teramat kurang. Dimana, hanya di bulan tertentu saja para tukang survei ini dapat job. Sementara di bulan –bulan normal, uang juga harus tetap masuk demi dapur yang tetap mengepul, tubuh yang selalu wangi dan rumah yang semakin bagus. Sayangnya, untuk urusan-urusan seperti ini, Donwori tidak peka orangnya. 

“Lalu dari mana uang untuk menopang hidup selama ini Mbak ? “ tanya Radar Surabaya. “Ya ada saja Mbak, aku muter otak tiap hari biar bisa tetap makan,” jawabnya singkat.

Di awal-awal pernikahan sih, Karin bisa bertahan karena uang pesangonnya dulu. . Setelah simpanannya habis, ia jual perhiasan, ngutang sana sini, ngempet beli ini dan itu dan akhirnya, karena prihatin, ia kerap mendapat sokongan dari orang tua. Pokoknya ya apa carane agar tetap bisa hidup.

“Sampek isin aku Mbak, wes punya suami kok tetap nerima pemberian orang tua. Tapi jujur aku gak bisa nolak karena sebenarnya ya aku butuh banget,” katanya pasrah.

Lalu kenapa baru minta cerainya sekarang, padahal sudah digantung (nasib kesejahteraannya) bertahun-tahun? Hanya Tuhan lah yang tahu. Wong Karin sendiri juga heran kenapa bisa betah. “Ya mungkin kerena sekarang sudah tidak cinta. Dulu mau bertahan karena masih cinta,” pungkasnya singkat. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia