Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Suami Suka Main Aman. Karin Tak Nyaman

Jumat, 02 Nov 2018 10:23 | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Menikah bukan balapan. Kalau belum menemukan calon yang pas, ya woles saja. Karena kalau dipaksakan, tentu tak baik. Ujung-ujungnya cerai juga.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Galau melihat teman sepantaran sudah pada gendong anak, Karin ikut-ikutan menikah. Pernikahan itu terjadi empat tahun lalu saat usianya masih 24 tahun. Namun pada akhirnya, keputusan itu ia sesali. "Salah pilih bojo aku, Mbak," sesalnya saat berada di ruang tunggu Pengadilan Agama(PA) Klas 1A Surabaya. 

Saat itu Karin memilih Donwori, pria yang usianya setahun lebih tua darinya. Donwori adalah teman lelaki yang telah ia pacari setahun lamanya. Pikirnya, karena sudah jalan bareng cukup lama, kenapa tidak dihalalkan saja. Namun gara-gara gupuh, Karin mengabaikan fakta kalau ia kurang sreg dengan sikap suaminya. 

Karin mengaku, pola pikir suaminya ini sangat kolot. sementara ia anak gaul yang maunya selalu ikut trend. Baginya, gaya hidupnya wajar saja. Toh ia beli semuanya hasil dari keringat sendiri. Tapi tindakan Karin yang ia pikir menghargai diri sendiri itu, dinilai foya-foya oleh Donwori. " Wes jujur saja lah, Mbak. Standar hidup meningkat kalau gaji juga tinggi. Dia ngritik aku gara-gara gajie gak bisa untuk menuhi ini. Sementara gajiku masih aman-aman saja untuk seneng-seneng," sungutnya panjang lebar.

Sebenarnya, dalam urusan karir, jabatan Donwori dan Karin sudah jomplang. Karin bekerja sebagai PNS sementara suaminya membuka usaha percetakan kecil-kecilan di rumah. Yang tak Karin sukai, suaminya ini terlalu woles untuk ukuran laki-laki. Ia bekerja ya semampunya, minim inovasi, malas memikirkan agar bagaimana usahanya berkembang. 

Kemalasan Donwori ini tentu saja berimbas pada pemasukan. Menurut Karin, seharusnya usaha Donwori yang sudah jalan lima tahun sudah kelihatan hasil. Namun usaha Donwori stagnan-stagnan saja. Pun dengan pendapatannya. "Gak ada masalah orang ketiga, ya cuma ini masalah ekonomi yang jomplang ini saja," imbuh perempuan yang tinggal di Gayungsari ini. 

Kata Karin, suaminya ini sering main aman. Pernah Karin dibuat jengkel setengah mati. Suaminya ditawari cetak kalender untuk kepentingan politik yang jumlahnya ribuan eksemplar. Harga yang ditawarkan juga menggiurkan. Namun tawaran itu serta merta ditolak oleh Donwori gara-gara alasan takut tidak bisa selesai sesuai deadline dan minim karyawan. "Iku dapet tawaran dari kenalanku. Sudah dikasih tinggal nampani wae emoh," sesalnya. 

Hal serupa sebenarnya tak hanya terjadi sekali dua kali. Donwori sering kali menyia-nyiakan kesempatan yang jalannya susah-susah ia buat. Ini menguatkan keyakinan Karin kalau Donwori ini tak pernah menghargai usahanya. Kekesalan Karin ini membuka cerita bagaimana dulu awalnya menikah yang bisa dibilang, pernikahan gratisan yang disponsori banyak perlombaan yang ia ikuti.

Untuk biaya menikah, Karin harus mengumpulkan modal sendiri. Karena Karin punya bakat membuat film pendek, ia mengikuti beberapa lomba film. Dalam satu lomba, ia sampai mengirimkan tiga karya. Mengatasnamakan dirinya, kakak dan calon suaminya. Padahal semua juga ia sendiri yang mengerjakan.

Nah kebetulan, di salah satu kompetisi film, video atas nama suaminya yang terpilih. Sudah menang tinggal terima hadiah saja, Donwori tidak mau  berangkat menerima award. Alasannya berat pada kerjaan. "Padahal iku gawe mbondoni rabi, aku sing usaha ngalor ngidul, dia tinggal terima jadi," curhatnya, jengkel.

Tak mau terus-terusan jadi istri durhaka yang menganggap remeh suami, cerai menjadi jalan terbaik untuk memotong dosa. Mending ia hidup sendiri bahagia daripada terus mengeluh dengan suami loyo. "Daripada berantem tiap hari, mending tak sudahi. Aku gak tahan lagi," pungkas Karin, mantab. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia