Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Dulu Ditangisi Diperjuangkan, Giliran Sukses Ditinggal Pergi

Rabu, 31 Oct 2018 15:59 | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Saat masih berjuang, nyusahin istri. Giliran sudah sukses,  malah ninggalin. Ada suami bedebah seperti itu? Banyaaaak. Donwori, 32, salah satunya. 

Ismaul Choiriyah-Wartawan Surabaya

Seorang wanita muda duduk diam di sebuah bangku di lorong ruang tunggu Pengadilan Agama (PA)  Klas 1 Surabaya. Karena wajahnya nampak ramah dan dia terlihat tidak sibuk sendiri, kesempatan itu saya manfaatkan baik-baik untuk mengajak ngobrol. Saya pun duduk di sampingnya. "Sudah antrean ke berapa Mbak ? " tanya saya, basa basi.

"Masih 25. Mbaknya nomor berapa? Masih lama ya?" jawabnya. Begitulah awal obrolan kami. Tak perlu menunggu terlalu lama, si mbak-mbak ini, sebut saja namanya Karin, langsung bercerita panjang. "Aku diselingkuhi mbak, makanya aku minta cerai," katanya lagi

Lalu ia mulai flashback. Karin hanya bisa menyesali nasib telah menikahi Donwori. Ia pikir-pikir, semenjak menikah dengan Donwori empat tahun lamanya, hidupnya susah terus. Bahkan ia sempat diusir dari rumah orang tuanya sendiri saat hamil besar. 

Ceritanya, sejak awal, Donwori tidak disukai oleh orang tuanya. Alasannya soal materi. Donwori memang bukan berasal dari keluarga berada. Karena orang tua sudah berpisah dan hidup masing-masing, ia tinggal dengan kakaknya yang juga tak begitu menganggapnya ada. Saat merantau ke Surabaya, ia bertemu dengan Karin. Jatuh cinta lalu menikah. "Kita ketemu di pabrik. Dia ngejar-ngejar terus sih, akhirnya tak terima," cerita  Karin, singkat.  

Pada saat itu, Karin sebenarnya juga dekat dengan seorang laki-laki. Berbeda dengan Donwori, ia lebih mentereng. Si laki-laki seorang manajer area. Dengan si mas iti, orang tua Karin senang sekali. Namun karena saat itu Karin yakin Donwori yang lebih serius ingin menikahinya, akhirnya Karin memilihnya. "Ya sejak itu orang tuaku gak bisa nerima Mas Don. Mereka jengkel kenapa tidak menikahi pria kaya, malah milih dia yang kere," urai Karin.  

Kejengkelan orang tua Karin makin bertambah manakala Donwori sakit tiba-tiba. Masih satu bulan usia pernikahannya, Karin harus menguras isi kantong. Menjual perhiasan dan maharnya untuk biaya operasi Donwori. Motor laki-laki, satu-satunya kebanggan Donwori, juga terpaksa ia jual untuk tambahan biaya rumah sakit.

Setelah sembuh, Donwori keluar dari pabrik. Begitu pun Karin yang perutnya semakin besar karena mengandung. Dari sini, kebencian orang tua  Karin pada Donwori makin memuncak. Hal ini dipicu oleh pekerjaan baru Donwori. "Bapak ibukku malu lihat Mas Donwori jadi penjual batagor keliling. Mereka orangnya emang gengsian," kata Karin lemas.

Ya, setelah keluar pabrik, Donwori akhirnya menjadi penjual makanan keliling. Dengan modal skill yang ia dapat dari kakak. Sementara Karin sama sekali tak mempermasalahkan pekerjaan suaminya ini. Asalkan halal, ia tak masalah. 

Namun baru dua bulan berjualan, dengan tiba-tiba orang tua Karin ikut campur lagi. Ia meminta Donwori dan Karin pindah rumah karena alasan remeh-temeh. Katanya, mereka risih melihat pasutri ini ribet setiap hari memasak untuk dagangannya. "Saat itu aku hamil besar, akhirnya aku ngajak mMas cari kontrakan sederhana untuk ditinggali," urainya. 

Sejak diusir itu, hubungan mantu dan mertua itu tak juga membaik. Karin bak anak buangan yang tak dianggap orang tua. Saat itu, aku Karin, suaminya hanya terus meminta maaf. Sementara Karin hanya terus menangisi nasib suaminya yang begitu dibenci orang tuanya.

Selang setahun berjualan keliling, Donwori pun akhirnya punya modal untuk membuka warung sendiri. Masih dengan usaha yang sama. Namun kali ini warungnya lebih proper ala-ala kafe. Tak disangka tak dinyana, usahanya ini laris manis. Bahkan belum genap satu tahun, ia sudah buka dua cabang baru. 

Namun rupanya, Tuhan masih ingin menguji Karin. Sudah merasa sukses, Donwori malah ada main dengan pegawainya. Donwori bahkan terang-terangan meminta Karin untuk berpisah demi bisa menikahi pelakor itu. "Gak kurang ajar banget ta? Pas susah aja lek ku nangisi sampai kayak gitu. Saiki malah ninggal," ungkap Karin, geregetan. 

Karin menjelaskan sembari menunggu proses hukumnya selesai, ia kembali kepada orang tuanya di daerah Mulyosari. Dari situ, orang tua Karin baru terbuka mengapa bisa begitu membenci Donwori. Selain alasan yang sudah jelas disebut tadi, rupanya masih ada alasan lain. Yang membuatnya salah menilai orang tuanya. Rupanya, mereka membenci Donwori karena sayang dengan Karin. "Bapak ibukku gak tega  lihat aku dimarahin habis-habisan sama dia (Donwori). Gak tega lihat aku dibodoh-bodohkan. Gak tega aku hamil besar harus bantu dia nyiapin jualannya," kata Karin.

Rupanya, selain miskin harta, Donwori ini miskin etika. Kalau marah, seluruh hewan yang ada di KBS diabsen di hadapan istri. Bedebahnya, kalau dipikir-pikir, Donwori ini sukses ya gara-gara desakan orang tua Donwori lho. Coba sama orang tua Donwori tidak diolok-olok, ia akan tetap nyaman jadi penjual batagor keliling. Sayang Donwori ini tak tahu diuntung. (*/opi) 

(sb/is/jay/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia