Minggu, 18 Nov 2018
radarsurabaya
icon featured
Iso Ae

Cinta Luntur karena Hitung-hitungan Gaji Tak Jelas

Selasa, 30 Oct 2018 10:53 | editor : Wijayanto

Ilustrasi Iso Ae

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Konon, banyak orang menasihati kalau sudah menikah, sebaiknya jangan tinggal satu rumah dengan orangtua atau mertua. Karena sebaik-baiknya hubungan, pasti suatu saat ada gesekan juga. Itu masih masalah tempat tinggal. Kalau masalah kerjaan, lebih runyam lagi. Hitungannya serba tak jelas. Karena kecampur antara hak sama rasa sungkan.

Ismaul Choiriyah-Wartawan Radar Surabaya

Penampilan Karin nampak paling mencolok dalam lorong ruang tunggu Pengadilan Agama (PA)  Klas 1A beberapa waktu yang lalu. Ia mengenakan dress selutut dengan sepatu hak tinggi. Di tangannya, ia membawa tas jinjing yang entah asli atau KW.  Ditambah dengan make up yang cukup mencolok, Karin sukses menarik perhatian orang lain ketika berjalan.

Kedatangannya ke PA adalah untuk mengurus gugatan cerai kepada Donwori. Katanya, ia sudah tak tahan hidup bersama. "Terlalu lemah, dikandani gak kenek, mesisan (cerai), “ sambat Karin, mengkritik suaminya.

Karin mengaku geregetan sekali dengan Donwori. Apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Sebenarnya, Donwori bukan orang susah. Wong ia anaknya pengusaha. Bahkan Donwori juga menempati salah satu jabatan di kantor bapaknya itu. 

Tapi rupanya, ini yang Karin permasalahkan. Bekerja di perusahaan orang tua membuat itung-itungan gajinya tidak jelas. Asal sedikasihnya orang tua, ya Donwori terima. Kalau bisnis sedang kendo, gaji Donwori lah yang dikorbankan. Entah ditunda pembayarannya atau diberi tapi dalam jumlah sedikit. 

Selama ini, Donwori sih oke-oke saja. Tapi Karin yang senep. Menjadi pengantin baru, ia ingin bisa punya rumah dan kendaraan sendiri. Masalahnya, harga rumah saat ini gila-gilaan. Iya kalau langsung dikasih dari orang tua enak, masalahnya orang tua Donwori ini golongan orang kaya tapi pelit. Akhirnya solusi terakhir yang bisa ia lakukan adalah mengandalkan tabungan. 

Selain ingin bisa hidup mandiri di rumah sendiri, keinginan Karin untuk punya rumah baru juga beralasan. Selama ini, ia masih nunut dengan mertua. Masalahnya, orang tua Donwori ini juga cerewet sekali. Dikit-dikit menyalahkan, dikit-dikit mmbandingkan. Bahkan tak jarang Karin dicibir mertua karena dinilai pemalas. Inilah yang membuat Karin ingin cepat-cepat punya rumah baru.

"Dia itu kayak gak mikir masa depan Mbak. Hidup rumah tangga itu butuhnya banyak, butuh tabungan untuk nyekolahin anak. Lha kalau cuma mengandalkan ini, apa cukup duitnya," keluhnya lagi. 

Namun lain Karin lain Donwori. Bukannya memikirkan masa depan, agaknya Donwori suka bermain aman. Dia tak memperhitungkan berapa gajinya, aset apa yang dipunya. Yang penting kelihatan kerja tiap hari, ya cukup. "Ya bener kelihatane kaya, tapi apa? Bahkan kendaraannya saja masih atas nama orang tua. Kalau sewaktu-waktu diminta  ya harus dikasih. Akhire sebenere dia iku  miskin gak punya apa-apa," jelas perempuan asal Gunung Anyar ini. 

Karena lelah mendorong Donwori untuk maju, namun selalu berakhir sia-sia, ia akhirnya mundur.Karin mengaku, ia bukanlah perempuan materialistis. Tapi realistis. Hidup butuh uang dan butuh berjuang. Hal itu yang selalu ia pegang. Lha kalau suaminya saja loyo begitu, bagaimana mendapatkan pemasukan seperti yang diinginkan. "Punya suami gak cak-cek, gak bisa diandalkan, juga buat apa," pungkasnya. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia